Surah ini terdiri dari atas 99 ayat, Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami zaman dahulu oleh kaum Samud yang dikenal juga dengan Mada ’in Shalih, terletak pada jalur Khaibar menuju Tabuk di Saudi Arabia di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syiria). Penamaan lokasi itu dengan al-Hijr yang antara lain berarti larangan, boleh jadi disebabkan karena ia terlarang dihuni oleh siapa pun selain kaum Samud.
Termasuk golongan surah Makkiyyah, akan tetapi ada ulama yang mengecualikan ayat 87 yang berbicara tentang surah al-Fatihah. Ini berdasar dugaan mereka bahwa al-Fatihah turun setelah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah. Tetapi pendapat ini lemah. Ada juga yang mengecualikan ayat 90 dengan alasan bahwa ia berbicara tentang Ahl al-Kitab/orang-orang Yahudi yang bermukim di Madinah. Pengecualian ini pun ditolak oleh banyak ulama.
Surah ini dimulai dengan huruf yang memberikan pengertian bahwa al-Qur’an yang turun itu menggunakan bahasa manusia yang tersusun dari suara yang dirumuskan dengan huruf, bukan bahasa malaikat. Disamping itu, surah ini menjelaskan tentang perlunya mengambil ibrah (pelajaran) dari kejadian yang menimpa umat yang lalu, juga mengajak untuk melihat dengan cermat alam raya untuk mengenal siapa Penciptanya, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta\’ala.
Diceritakan pula tentang kisah Nabi Adam dan Iblis serta permusuhannya yang akan terus berlangsung hingga kiamat. Juga kisah Nabi Ibrahim, dan Nabi Luth, serta heharusan Nabi untuk berdakwah secara terbuka.
Tema utama dan tujuan uraian surah ini menggambarkan ketinggian kandungan kitab suci al-Qur’an yang dengan gamblang menjelaskan kebenaran. Makna ini sejalan dengan nama al-Hijr yang kisahnya demikian jelas apalagi bagi yang pernah mendengar atau melihat peninggalan mereka, lebih-lebih bagi suku Quraisy. Demikian penjelasan Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.