Surah Ibrahim terdiri atas 52 ayat. Adalah surah ke 14 dari segi perurutan penulisannya dalam Mushaf, sedang dari segi perurutan turunnya merupakan surah ke 70 yang turun sesudah surah asy-Syura dan sebelum surah al-Anbiya’.
Sekian banyak surah yang dimulai dengan huruf-huruf Alif Lam Ra untuk membedakannya maka dinamailah surah-surah itu dengan nama nabi-nabi tertentu yang disebut didalamnya atau dengan menggunakan nama tempat di mana nabi itu diutus seperti al-Hijr. Surah ini dinamakan surah Ibrahim, karena surah ini mengandung doa Nabi Ibrahim Alaihis Salam yaitu pada ayat 35 sampai 41, walaupun uraian tentang Nabi Ibrahim terdapat di beberapa surah yang lain.
Surah ini termasuk golongan surah Makkiyyah, namun sebagian kecil ulama mengecualikan ayat 28 dan 29; ada juga yang menambahkan lagi ayat 30 karena mereka menilainya berbicara tentang peristiwa Perang Badr yang terjadi setelah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah ke Madinah pada tahun II Hijriah.
Tema utama uraian surah ini adalah Tauhid serta uraian tentang kesempumaan kitab suci al-Qur’an melalui penjelasan-Nya tentang ash-shirath yakni jalan luas dan lebar yang mengantar ke hadirat Ilahi. Sedangkan orang yang ingkar akan sesat dan jauh dari kebenaran, dan betapa tidak bergunanya amal perbuatan orang yang tidak beriman pada hari Kiamat nanti.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I memahami penamaan surah ini dengan nama Nabi Ibrahim, karena satu doa Nabi Ibrahim yang tertuang pada QS. 2. al-Baqarah; 129, yaitu:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Tuhan Kami! Utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang terus membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan terus mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Nabi Ibrahim Alaihis Salam dinilai oleh para pakar sebagai Pengumandang Tauhid. Melalui pengalaman ruhaninya dalam QS. 6. al-An‘am; 74-79, beliau menemukan Tuhan Yang Maha Esa, dan meyakini-Nya bahwa Dia bukan tuhan dari suku atau kelompok tertentu, tetapi Tuhan seru sekalian alam. Dengan demikian beliau wajar menyandang gelar Pengumandang Ketuhanan Yang Maha Esa.
Prof M. Quraish Shihab menyatakan, sebelum masa Nabi Ibrahim, para nabi – yang menyesuaikan dengan perkembangan akal masyarakatnya – memperkenalkan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala sebagai Tuhan mereka, yang mereka pahami sebagai Tuhan atas suku, atau kelompok tertentu. Disini, Nabi Ibrahim Alaihis Salam datang memperkenalkan-Nya sebagai Tuhan seluruh makhluk, yang menyertai mereka dalam keadaan sadar maupun tidur, menyertai bukan hanya dalam kehidupan dunia ini tapi berlanjut hingga hari Kemudian.
Sayyid Quthub menulis bahwa terlihat suasana uraian surah ini berkaitan dengan namanya ‘Ibrahim’ sebagai ‘Bapak para nabi’ seorang yang diberkati, yang pandai bersyukur, belas kasih dan selalu kembali kepada Allah. Surah ini mencakup sekian banyak hakikat pokok dari akidah, terutama dua hakikat yang berkaitan langsung dengan sosok Nabi Ibrahim. Perlama, hakikat kesatuan risalah dan para rasul, kesatuan dakwah yaitu Tauhid dan sikap mereka sebagai satu umat menghadapi Jahiliah yang mendustakan agama, di berbagai tempat dan waktu. Serta kedua, hakikat nikmat Allah swt. yang dianugerahkan-Nya kepada manusia, serta penambahannya jika disyukuri, namun banyak juga manusia yang mengingkari dan mengkufuri nikmat itu.
Thabathaba’i menjelaskan bahwa surah ini menyifati al-Qur’an sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad saw. Ia dimulai dengan penjelasan tentang tujuan risalah kenabian dan kitab suci yang dilukiskan oleh firman- Nya:
الۤرٰ ۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ
“Supaya engkau mengeluarkan manusia dari aneka gelap gulita menuju cahaya terang benderang” (QS. 14. Ibrahim; 1) dan ditutup dengan firman-Nya:
هٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوْا بِهٖ وَلِيَعْلَمُوْٓا اَنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّلِيَذَّكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“(Al-Qur ’an) ini adalah penjelasan (yang sempuma) manusia dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar Ulul Albab (orang-orang yang berakal) mengambil pelajaran” (QS. 14. Ibrahim; 52). Uraian terbanyak dari ayat-ayat surah ini berkisar pada tiga sifat Allah yang disebut pada awal ayat dan akhir ayat surah ini, yaitu Keesaan dan Keperkasaan-Nya serta Keterpujian segala perbuatan-Nya, jelas Thabathaba’i.
Surah ini sangat serasi dengan surah sebelumnya, yakni ar-Ra‘d. Pada akhir surah yang lalu ditegaskan bahwa tidak ada kesaksian melebihi kesaksian siapa yang memiliki ilmu al-Kitab. Ini berarti bahwa al-Kitab – dalam hal ini al-Qur’an – adalah saksi kebenaran yang amat kukuh melalui kemukjizatan-kemukjizatannya, baik dari segi redaksinya yang sangat mempesona maupun kandungannya yang menghidangkan aneka informasi dan pengetahuan. Hal ini dapat dilihat pada awal ayat surah ini. Pada surah-surah sebelumnya menggunakan bentuk difinit/ma ‘rifah yaitu al-kitab ketika menunjuk kitab itu. Sedangkan pada surah Ibrahim – kitab tersebut ditunjuk dengan menggunakan redaksi yang berbentuk indifinit/nakirah yaitu kitab – tanpa al – untuk mengisyaratkan keagungan dan kebesarannya. Yakni ia adalah kitab yang sangat agung tidak terjangkau oleh nalar, selain dengan menyebutnya sebagaimana bentuk dan kata itu. Demikian penjelasan al-Biqa‘i.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.