Surah ar-Ra‘d ini terdiri dari 43 ayat yang berarti guruh (ayat 13). Nama itu telah dikenal sejak awal masa Islam. Dalam surah 2. al-Baqarah; 19 disebut juga kata Ra\’d, tetapi uraian di sana bukan menyangkut guruh, melainkan menyangkut orang-orang munafik. Sedang di sini ayatnya secara tegas berbicara tentang guruh sebagai pelaku yang bertasbih bersama malaikat. Tidak diketahui adanya nama lain untuk surah ini, selain ar-Ra‘d.
Ulama berbeda pendapat tentang masa turunnya. Ada yang berpendapat setelah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah (Madaniyah). Dan ada pula yang berpendapat bahwa seluruh ayat surah ini turun sebelum beliau berhijrah, atau paling tidak sebagian besar ayat-ayatnya Makkiyah. Namun jika memperhatikan kandungannya yang temanya serupa dengan tema ayat-ayat yang turun sebelum hijrah, maka sungguh wajar ia juga merupakan bagian dari surah Makkiyah.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i menegaskan bahwa tujuan utama surah ini adalah uraian tentang sifat al-Qur’an yang penuh dengan kebenaran, dan yang dapat memberi pengaruh positif yang lahir dari kalimat-kalimatnya yang sangat jelas, dan dengan ‘suaranya’ yang gamblang ia dapat melahirkan rasa takut dan gentar, bagi siapa yang mau melihat, walau terkadang juga tidak memberi pengaruh bahkan menjadi sebab kesesatan dan kebutaan hati bagi yang enggan menerima kebenaran al-Qur’an.
Nama yang paling tepat untuk tujuan itu adalah Guruh, karena guruh merupakan suatu kenyataan dan secara haq bisa didengar, bahkan oleh yang ‘kehilangan penglihatan (tuna netra)’ sekalipun, serta oleh siapa pun yang menampakkan diri atau yang bersembunyi. Guruh dapat disertai oleh cahaya kilat dan hujan, atau dapat juga tidak. Hujan pun kalau turun, dapat memberi manfaat jika tanah yang dihujaninya subur dan bisa juga tidak bermanfaat jika yang disiraminya adalah tanah yang gersang. Demikianlah al-Biqa‘i mengemukakan tema surah ini.
Dijelaskan pula bahwa betapa erat hubungan antara seorang mukmin dengan tuntutan kemanusiaan, dan juga siksanya bagi yang ingkar jauh lebih dahsyat daripada bencana yang ada di dunia. Allah akan membalas segala perbuatan manusia dengan adil. Allah pun menghibur Rasulullah dengan menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang akan berlangsung hingga masa terakhir dan Nabi Muhammad tidak perlu merasa berkecil hati hanya karena penolakan dan cemoohan orang kafir, karena yang membenarkan risalahnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta\’ala itu sendiri.
Dari segi hubungan surah ini dengan surah sebelumnya, kita dapat berkata bahwa surah ini merupakan rincian dari ayat-ayat yang menjadi penutup surah yang lalu, yang antara lain berbicara tentang banyaknya ayat-ayat kauniyah yang terhampar di alam raya, tetapi diabaikan oleh kaum musyrikin (ayat 105-108). Sekian banyak ayat yang terlihat di langit dan di bumi diuraikan dalam surah ini, seperti ayat 2, 3 dan 4. Uraiannya tentang bagian-bagian yang berdampingan di bumi dan di kebun-kebun serta aneka tanaman yang disirami dengan air yang sama, mengantar kepada pembuktian keniscayaan hari Kemudian, karena terdapat kemiripan antara kehidupan tanah yang tadinya gersang (mati) dengan kebangkitan manusia di hari Kemudian setelah mengalami kematian.
Di sisi lain, sungguh serasi awal ayat pada surah ini dengan penutup surah sebelumnya. Akhir uraian pada surah Yusuf adalah tentang ayat-ayat al-Qur’an. Ia bukan cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab suci sebelumnya. Menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ajaran agama serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Sedang awal surah ar-Ra‘d juga berbicara tentang ayat-ayat al-Kitab, baik ayat-ayat Qur’aniyah maupun kauniyah sebagaimana pada ayat-ayat pertama.
Hal lain yang menarik dari surah ini, yaitu irama yang dilahirkan kata per kata, penggalan kalimat dan fashilah/penutup ayat-ayatnya. 5 ayat pertama ditutup dengan irama yang sama: yu’minun, tuqinun, yatafakkarun, ya‘qilun dan khalidun. Selanjutnya dari ayat 6sampai dengan 27, huruf sebelum akhirnya adalah alif sehingga bernada panjang. Setelah pembaca terbiasa dengan nada itu, tiba-tiba akhir ayat 28 diubah dengan mengakhirinya dengan huruf ba ’ yaitu al-qulub lalu melanjutkan kembali sebagaimana sebelumnya menggunakan nada panjang ma’ab, matab, mi\’ad dan seterusnya hingga akhir.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.