Surah Yusuf terdiri dari 111 ayat. Surah ini adalah wahyu ke-53 yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Dalam perurutan Mushaf ditempatkan pada urutan ke 12 sesudah surah Hud dan sebelum surah al-Hijr. Surah Yusuf adalah satu-satunya nama dari surah ini. Penamaan itu sejalan juga dengan ayat-ayatnya yang menguraikan kisah Nabi Yusuf Alaihis Salam. Berbeda dengan banyak nabi yang lain, kisah Nabi Yusuf hanya disebut dalam surah ini. Nama beliau — hanya sekadar nama — disebut dalam surah al-An‘am dan surah al-Mu’min (Ghafir).
Surah Yusuf turun di Mekah sebelum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah ke Madinah (Makkiyah). Kala itu jiwa Rasulullah sedang diliputi oleh kesedihan, karena istri beliau Sayyidah Khadijah Radiallahu Anha, dan paman beliau Abu Thalib, baru saja wafat. Situasi dakwah ketika itu juga sangat kritis khususnya ketika banyak yang meragukan pengalaman Rasulullah melakukan Isra’ dan Mi\’raj, dan sebagian yang lemah imannya menjadi murtad. Dalam situasi semacam itulah turun surah ini untuk menguatkan hati Nabi.
Dalam surah ini, pribadi Nabi Yusuf Alaihis Salam dikisahkan secara sempurna dan dalam berbagai bidang kehidupannya. Dipaparkan juga aneka ujian dan cobaan yang menimpanya serta sikap beliau ketika itu. Dalam ayat 2 juga dijelaskan bahwa al-Qur’an menggunakan bahasa Arab, bahasa manusia agar mudah dimengerti dan diambil pelajaran.
Nabi Yusuf adalah putra Yakub Ibn Ishaq Ibn Ibrahim. Ibunya adalah Rahil, salah seorang dari tiga istri Nabi Yakub Alaihis Salam. Ibunya meninggal ketika adiknya, Benyamin dilahirkan, sehingga Nabi Ya’qub mencurahkan kasih sayang yang besar kepada keduanya melebihi kasih sayang kepada kakak-kakaknya. Hal ini menimbulkan kecemburuan kakak-kakaknya yang akhirnya menjerumuskan Nabi Yusuf ke dalam sumur.
Nabi Yusuf kemudian dipungut oleh kafilah orang-orang Arab yang sedang menuju ke Mesir. Ketika itu, yang berkuasa di Mesir adalah dinasti yang digelari oleh orang Mesir dengan nama Heksos, yakni “para pengembala babi”. Pada masa kekuasaan Abibi yang disebut oleh al-Qur’an sebagai al-Malik — bukan Fir\’aun –
Setibanya di Mesir, Nabi Yusuf dijual kepada seorang penduduk yang menurut Perjanjian Lama bernama Potifar yang merupakan kepala pengawal raja. Ini terjadi sekitar 1720 SM. Setelah beranjak usia pemuda, Nabi Yunus dirayu oleh seorang wanita cantik, kaya dan merupakan istri penguasa, namun beliau menolak rayuan itu hingga dijerumuskan ke dalam penjara.
Setelah perjalanan hidup yang berliku-liku, pada akhirnya Nabi Yusuf Alaihis Salam mendapat kedudukan tinggi sebagai pejabat pembendaharaan istana, kisahnya berakhir dengan sukses setelah berhasil istiqamah dan bersabar. Sabar dan istiqamah itulah yang merupakan kunci keberhasilan, dan itu pula yang dipesankan kepada Nabi Muhammad saw. Hal ini juga sesuai dengan perintah Allah pada surah sebelumnya, surah Hud ayat 115 yang menyebutkan bahwa Allah swt. Tidak akan menyia-nyiakan ganjaran al-muhsinin (orang yang senantiasa berbuat kebaikan).
Nabi Yusuf Alaihis Salam kemudian meninggal di Mesir sekitar 1635 SM. Konon jasadnya diawetkan sebagaimana kebiasaan orang-orang Mesir pada masa itu. Dan ketika orang-orang Isra’il meninggalkan Mesir, mereka membawa jasad/mumi beliau dan dimakamkan di satu tempat yang bernama Syakim. Demikian antara lain keterangan Thahir Ibn ‘Asyur.
Berdasarkan penjelasan diatas, surah Yusuf merupakan, surah yang unik. Ia menguraikan suatu kisah menyangkut satu pribadi secara sempurna. Karena biasanya al-Qur’an menguraikan sebagian kisah seseorang dalam satu surah yang berbicara tentang banyak persoalan, tidak lengkap sebagaimana halnya surah ini. Sehingga pantas disebut sebagai Ahsan al-Qashash (sebaik-baik kisah)- ayat 3, yang penuh pembelajaran, tuntunan dan hikmah. Kisah ini memberi aneka informasi tersurah dan tersirat tentang sejarah masa silam. Surah ini diakhiri dengan penjelasan bahwa kisah Yusuf merupakan kisah yang belum diketahui oleh Nabi Muhammad, sehingga pasti datangnya dari Allah, bukan karangan,
Dalam Surah ini dijelaskan pula bahwa perangai angkuh dan dengki akan membawa seseorang kepada kekafiran, dan bahwa risalah Nabi Muhammad bukan untuk semata mencari kedudukan atau harta, tetapi untuk memberi hidayah dan peringatan kepada seluruh mahluk.
Tujuan utama surah ini menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i, adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci al-Qur’an benar-benar adalah penjelasan (mubinan) menyangkut segala sesuatu yang mengantar kepada petunjuk, berdasar pengetahuan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala secara menyeluruh, baik terhadap yang nyata maupun yang gaib.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.