Surah Hud terdiri dari 123 ayat, merupakan surah yang keseluruhan ayatnya turun sebelum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah ke Madinah (Makkiyah).
Sebagian Ulama mengecualikan beberapa ayat. Ada yang mengecualikan satu (ayat 12), ada lagi yang menyatakan dua (ayat 12 dan 114) dan ada juga yang mengecualikan tiga ayat. Menurut Prof. M. Quraish Shihab, pendapat-pendapat ini kurang tepat. Bahwa ketiga ayat ini ‘terkesan’ berbicara tentang orang atau kasus yang terjadi di Madinah, bukanlah dapat dijadikan alasan untuk menyatakan surah itu turun ketika Rasulullah bertempat tinggal di Madinah. Karena, tidak selalu uraian tentang orang-orang yang bertempat tinggal di Madinah harus menjadikan ayat yang membicarakannya turun di sana.
Penentuan masa dan tempat turun ayat bukanlah berdasar nalar, tetapi harus berdasarkan sejarah yang hanya dapat ditetapkan melalui kenyataan yang terjadi. Nalar dalam hal ini hanya berfungsi menguatkan salah satu dari dua riwayat/informasi atau lebih, bahkan menolak seluruhnya bukan mengarang atau memperkirakan.
Surah ini merupakan surah ke-52 berdasarkan turunnya wahyu. Surah ini turun sesudah surah Yunus dan sebelum surah Yusuf. Tidak dikenal nama lain selain surah Hud. Rasulullah pun menamainya demikian. Ketika Sayyidina Abu Bakar Radiallahu Anhu berkata kepada beliau, “Wahai Rasul, engkau telah beruban,” beliau menjawab ‘Yang menjadikan aku beruban adalah Surah Hud, al-Waqi‘ah, al-Mursalat, \’Amma yatasa’alun, dan at-Takwir’” (HR. at-Tirmidzi).
Surah ini dinamai surah Hud, karena di dalamnya terulang nama Nabi Hud Alaihis Salam sebanyak lima kali, dan uraian menyangkut kisah beliau merupakan uraian yang terpanjang bila dibandingkan dengan uraian-uraian tentang beliau di surah-surah yang lain.
Surah ini berbicara tentang kedudukan, keistimewaan serta tantangan al-Qur’an, larangan mempersekutukan Allah swt. dan bahwa Nabi Muhammad adalah rasul yang bertugas menyampaikan berita gembira dan peringatan, khususnya menyangkut hari Kebangkitan. Surah ini juga menguraikan tentang pengetahuan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, penciptaan, pengaturan dan pengendalian-Nya terhadap alam raya dan semua makhluk.
Serta uraian tentang kebinasaan para pembangkang dan aneka tuntunan bagi yang taat. Surah ini merupakan satu-satunya yang menjabarkan detail peristiwa air bah yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh Alaihis Salam. Kemudian dilanjutkan dengan riwayat Nabi Saleh Alaihis Salam dengan kaum Samud, Nabi Ibrahim Alaihis Salam, dan Nabi Luth Alaihis Salam, serta Nabi Syuaib Alaihis Salam.
Tema utama surah ini, menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i adalah menjelaskan tentang betapa al-Qur’an merupakan kitab yang sangat teliti serta rapi susunannya juga terperinci. Allah Subhanahu Wa Ta\’ala yang menurunkannya telah menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sebaik-baiknya, serta menetapkan pelaksanaannya sesuai kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.