Mukaddimah Qur’an Surah 112. al Ikhlas

Surah terdiri dari 4 ayat. Kata al-Ikhlas berarti ‘Suci/Murni’, karena surah ini menggambarkan ke-Esa-an dan kemurnian Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Merupakan surah yang ke-19 bagi ulama yang menyatakannya Makkiyah. Ada juga di antara mereka yang berpendapat surah yang ke-22 yang turun sesudah surah an-Nas dan sebelum an-Najm.

Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 4 ayat menurut cara perhitungan ulama Madinah, Kufah dan Bashrah, sedang menurut cara perhitungan ulama Mekah dan Syam, sebanyak 5 ayat. Mereka menilai lam yalid merupakan satu ayat dan wa lam yulad ayat yang lain.

Namanya banyak sekali. Pakar tafsir Fakhruddin ar-Razi menyebut sekitar dua puluh nama, antara lain surah at-Tafrid (Pengesaan Allah), surah at-Tajrid (Penafian segala sekutu bagi-Nya), surah an-Najat (Keselamatan yakni di dunia dan akhirat), surah al-Wilayah (Kedekatan kepada Allah), surah al-Ma\’rifah (Pengetahuan tentang Allah), surah al-Jamal (Keindahan karena Allah Maha Indah), surah Qasyqasy (Penyembuhan dan kemusyrikan), surah al-Mudzdzakkirah (Pemberi peringatan), surah ash-Shamad, surah al-Aman, dan masih banyak lainnya.

Surah ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan sementara kaum musyrikin yang ingin mengetahui seperti apa Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Ini karena mereka menyangka bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu serupa dengan berhala-berhala mereka.

Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa surah ini turun berkenaan dengan pertanyaan orang-orang Yahudi di Madinah, atau dalam riwayat lain berkenaan dengan datangnya ‘Amir Ibn Thufail dan Arbad Ibn Rabi‘ah yang bertanya kepada Nabi tentang ajakan beliau. Ketika itu Rasulullah menjawab: “Aku mengajak kepada Allah.” Sehingga mereka meminta agar dilukiskan apakah Allah terbuat dari emas atau perak, atau kayu. Riwayat ini kalau pun diterima, maka itu tidak menunjukkan bahwa surah ini turun ketika itu di Madinah, tetapi Nabi bisa saja membacakannya kembali setelah surah ini turun di Mekah.

Memang pada wahyu-wahyu pertama yang turun, al-Qur’an menggunakan Rabbuka (Tuhanmu hai Nabi Muhammad) untuk menunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti surah-surah Iqra’, al-Muzzammil, al-Muddassir, dan seterusnya. Kalau demikian wajar jika timbul pertanyaan, baik di kalangan kaum musyrikin maupun orang-orang Yahudi tentang Tuhan yang disembah Nabi Muhammad itu. Bagaimana sifatnya, apa nisbahnya, apakah terbuat dari emas atau perak.

Ikhlas adalah keberhasilan mengikis dan menghilangkan kekeruhan, sehingga sesuatu yang tadinya keruh menjadi murni. Dengan nama itu tecermin bahwa kandungan ayat-ayat ini bila dipahami dan dihayati oleh seseorang maka itu akan menyingkirkan segala kepercayaan, dugaan dan prasangka kekurangan atau sekutu bagi Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, yang boleh jadi selama ini hinggap dibenak dan hatinya. Sehingga pada akhirnya keyakinannya tentang keesaan Allah benar-benar suci murni tidak lagi dihinggapi oleh kemusyrikan baik yang jelas (mempersekutukan Allah) maupun yang tersembunyi (riya dan pamrih).

Tema utamanya adalah pengenalan tentang Tuhan Yang Maha Esa dan yang menjadi andalan dan harapan semua makhluk. Dia yang Tunggal, tidak terbagi dan tidak tersusun, berbeda dari segala sifat makhluk ciptaan-Nya. Kepada=Nya saja tercipta alam semesta dan kelestariannya. Tiada karunia, perlindungan dankebahagiaan kecuali yang dating dari dan atas petunjuk-Nya.

Menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i tujuan utamanya adalah penjelasan tentang Dzat Yang Maha Suci (Allah) serta kewajaran-Nya menyandang puncak semua sifat sempurna, serta menghindarkan dari-Nya semua sifat kekurangan.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top