Surah ini terdiri dari 6 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Kata al-Kafirun berarti ‘Oang-orang kafir’, diambil dari ayat pertama. Surah yang ke-19 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah al-Ma‘un dan sebelum surah al-Fil.
Nama lainnya adalah surah al- Ibadah, surah ad-Din. Ada juga yang menamainya surah Muqasyqisyah (penyembuh) yakni kandungannya yang menyembuhkan dan menghilangkan penyakit kemusyrikan. Nama terakhir ini diberikan juga kepada surah Qul Huwa Allah Ahad. Di sisi lain surah Qul Huwa Allah Ahad yang populer dengan nama surah al-Ikhlash merupakan juga salah satu nama dari surah al-Kafirun.
Tema utamanya adalah penolakan usul kaum musyrikin untuk penyatuan ajaran agama dalam rangka mencapai kompromi, sambil mengajak agar masing-masing melaksanakan ajaran agama dan kepercayaannya tanpa saling mengganggu.
Ditemukan beberapa riwayat tentang Sabab Nuzul ayat surah ini, antara lain adalah bahwa beberapa tokoh kaum musyrikin di Mekah seperti al-Walid Ibn al-Mughirah, Aswad Ibn ‘Abdul Muththalib, Umayyah Ibn Khalaf, datang kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam menawarkan kompromi menyangkut pelaksanaan tuntunan agama (kepercayaan).
Usul mereka adalah agar Nabi bersama umatnya mengikuti kepercayaan mereka, dan mereka pun akan mengikuti ajaran Islam. “Kami menyembah Tuhanmu, hai Muhammad setahun dan kamu juga menyembah tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar, kamu juga tentu memperoleh keuntungan.” Demikian kurang lebih usul kompromi mereka. Mendengar usul tersebut Rasulullah menjawab tegas: “Aku berlindung kepada Allah, dari tergolong orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
Menurut Prof. M. Quraish Shihab, usul kaum musyrikin itu ditolak oleh Rasulullah karena tidak mungkin dan tidak logis pula terjadi penyatuan agama-agama. Setiap agama berbeda dengan agama yang lain, demikian pula dalam ajaran pokok dan perinciannya, karena itu tidak mungkin perbedaan-perbedaan itu digabungkan dalam jiwa seorang yang tulus terhadap agama dan keyakinannya.
Masing-masing penganut agama harus yakin sepenuhnya dengan ajaran agama dan kepercayaannya. Selama mereka yakin, mustahil mereka akan membenarkan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan kepercayaannya. Sikap Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam menolak ajakan kaum musyrikin itu diperkuat oleh Allah Subhanahu Wa Ta\’ala dengan turunnya surah ini.
Anda mungkin bertanya, mengapa Nabi sedemikian cepat memberi jawaban? Kita dapat menjawab bahwa seandainya pun tidak ada petunjuk sebelum turunnya ayat ini menyangkut sikap yang seharusnya beliau sikapi, maka petunjuk akal yang sehat pasti mengantar kepada jawaban yang sama. Apalagi sebelum turunnya ayat ini, dalam surah Nun (yang merupakan salah satu bagian dari wahyu-wahyu awal yang turun) Allah berfirman:
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ
“jangan ikuti kehendak para pembohong, mereka berharap agar engkau bersikap lemah, supaya mereka bersikap lemah pula” (QS. 68. al-Qalam; 8-9). Diantara keduanya (yang beriman dan yang tidak) ada batas yang tidak mungkin putus.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.