Surah ini terdiri dari 3 ayat. Kata al-Kautsar berarti ‘Sungai di surga’, diambil dari ayat pertama. Ada juga yang menamainya surah an-Nafar. Merupakan surah yang terpendek dalam al-Qur’an.
Surah Wa al-‘Ashr, walaupun juga terdiri dari tiga ayat, namun kosa kata yang digunakannya lebih banyak dari surah ini. Atas dasar itu, para ulama menjadikan surah ini sebagai surah yang merupakan tantangan paling minimal dari Allah Subhanahu Wa Ta\’ala terhadap siapa pun yang meragukan kebenaran al-Qur’an, untuk dapat menyusun surah semacam ini.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa surah ini turun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Ini antara lain dikuatkan oleh kata al-abtar yang dipahami dalam arti terputus keturunannya, dan itu dilontarkan oleh kaum musyrikin Mekah ketika putra beliau meninggal dunia. Ulama yang berpendapat surah ini Makkiyah, menyatakan bahwa surah ini adalah wahyu ke-14 atau 15 dari segi perurutan turunnya surah, setelah surah Wa al-‘Adiyat dan sebelum surah at-Takasur.
Tetapi kalau kata inhar dipahami dalam arti perintah menyembelih kurban pada hari raya ‘Idul Adha, maka oleh sebagian ulama dijadikan dasar untuk menyatakan surah ini Madaniyah. Walau sebetulnya tidak mutlak demikian, karena penyembelihan binatang sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dikenal juga sebelum hijrah bahkan kaum musyrikin pun melakukannya.
Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan melalui sahabat Nabi, Anas Ibn Malik Radiallahu Anhu, bahwa: Kami berada di sekeliling Rasul,tiba-tiba beliau terlena sebentar kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Diturunkan kepadaku tadi satu surah.” Lalu beliau membaca surah al-Kautsar dan bersabda: “Tahukah kalian apa al-Kautsar?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Lalu beliau melanjutkan: “Ia adalah sungai yang dijanjikan Tuhan kepadaku. Di sana terdapat banyak kebajikan. Ia adalah telaga yang didatangi (untuk minum) umatku pada hari Kiamat.” Hadits ini dijadikan dasar oleh sementara ulama untuk menyatakan bahwa surah ini turun di Madinah, karena Anas Ibn Malik yang meriwayatkannya baru memeluk Islam pada awal hijrah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam ke Madinah.
Alhasil ulama berbeda pendapat, sulit untuk menetapkan yang lebih kuat, sampai-sampai ada yang berpendapat bahwa surah ini turun dua kali, sekali di Mekah dan sekali di Madinah.
Tema utama surah ini adalah uraian tentang anugerah Allah Subhanahu Wa Ta\’ala kepada beliau yang hendaknya beliau syukuri, salah satunya dengan salat dan berkorban, serta kecelakaan ‘yang akan menimpa lawan-lawan beliau’. Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i menyatakan bahwa itu dapat dilihat dengan jelas pada namanya al-Kautsar dan an-Nafar yakni penyembelihan unta yang merupakan puncak kemurahan dan anugerah di kalangan masyarakat Arab (ketika itu).
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.