Allah memulai kitab-Nya dengan Basmalah, dan sebagai adab serta bimbingan pertama yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, Iqra’ Bismi Rabbika/Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu. Maka tidak keliru jika dikatakan bahwa Basmalah merupakan pesan pertama Allah kepada manusia. Pesan agar manusia memulai setiap aktivitasnya dengan nama Allah.
Permulaan itu sesuai dengan kaidah utama ajaran Islam yang menyatakan bahwa Allah adalah al-Awwal Wa al-Akhir Wa azh-Zhahir Wa al-Bathin/ Dia yang Pertama dan Dia pula yang Terakhir, Dia Yang nampak dengan jelas (bukti-bukti wujud-Nya) Dan Dia pula yang Tersembunyi (terhadap siapa pun hakikat-Nya). Dia Yang Maha Suci itu yang merupakan wujud yang haq, yang dari-Nya semua wujud memperoleh wujudnya, dan dari-Nya bermula semua yang memiliki permulaan. Karena itu, dengan nama-Nya segala seuatu harus dimulai dan dengan nama-Nya terlaksana setiap gerak dan arah.” Demikian penjelasan Sayyid Quthub dalam tafsirnya.
Dalam Tafsir al Misbah, Prof M. Quraish Shihab menjelaskan, (ب ) huruf Ba’atau (dibaca bi) yang diterjemahkan ‘dengan’, mengandung satu kata atau kalimat yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas di dalam benak ketika mengucapkan Basmalah, yaitu ‘memulai’. Sehingga Bismillah berarti “Saya/Kami memulai apa yang saya/kami kerjakan ini dengan nama Allah.” Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi semacam doa atau pernyataan dari pengucap, bahwa ia memulai pekerjaannya atas nama Allah.
Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Allah yang menyatakan “Mulailah pekerjaanmu dengan nama Allah”. Keduanya menyisipkan —dalam benak — kata ‘memulai’. Memiliki semangat yang sama, yakni menjadikan (nama) Allah sebagai awal tempat bertolak.
Apabila seseorang memulai suatu pekerjaan dengan nama Allah atau atas nama-Nya, maka pekerjaan tersebut akan menjadi baik, atau paling tidak, pengucapnya akan terhindar dari godaan nafsu, dorongan ambisi atau kepentingan pribadi. Sehingga apa yang dilakukannya tidak akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Bahkan akan membawa manfaat bagi diri pengucapnya, masyarakat, lingkungan serta kemanusiaan seluruhnya.
Ada juga yang berpendapat kata bi/dengan, dingaitkan dalam benaknya ‘kekuasaan’. Sehingga pengucap Basmalah seakan-akan berkata: “Dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana.” Pengucapnya ketika itu (seharusnya) sadar bahwa tanpa izin kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, apa yang sedang dikerjakannya itu tentu tidak akan berhasil. Dengan demikian, ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya. Tetapi pada saat yang sama pula, ia memiliki kekuatan dan rasa percaya diri karena telah menyandarkan dirinya kepada Allah dan memohon bantuan Yang Maha Kuasa.
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam bersabda: “Setiap perbuatan yang penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ maka perbuatan tersebut cacat” (HR. as-Suyuthi dalam al-Jami‘ ash-Shaghir yang disebut oleh Abdul Qadir ar-Rahawi yang menyatakan bahwa perawinya dari sahabat Nabi adalah Abu Hurairah Radiallahu Anhu)
Kata ( ا سْم) isim terambil dari kata (ا لسْمو ) as-sumuw yang berarti tinggi, atau ( السْمه ) as-simah yang berarti tanda. Memang nama menjadi tanda bagi sesuatu serta harus dijunjung tinggi. Kata isim disini digunakan sebagai penguat.
Syekh Thahir Ibn ‘Asyur ulama besar Tunisia mengemukakan bahwa\’ penyisipan kata ism mengandung makna tersendiri, yang berbeda jika tanpa kata ism. Menurut beliau setiap kalimat yang bertujuan mewarnai satu aktivitas yang diharapkan darinya keberkatan Allah atau dimaksudkan demi karena Allah, maka disisipkan kata isim. sedang bila dimaksudkan dengan permohonan kemudahan dan bantuan Allah maka kata yang digunakan langsung menyebut Allah/Tuhan tanpa menyisipkan kata isim.
Seperti yang ada dalam doa Rasulullah sebelum tidur beliau berdoa:
(بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ ) Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amut (dengan nama-Mu Ya Allah aku tidur dan bangun). yakni demi karena Engkau Aku hidup dan mati. Sedangkan dalam doa lain berkata:
(اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ ) Allahumma bika ashbahna, wa bika amsaina, wa bika nahya, wa bika namutu, wa ilaikan nusyuru (Ya Allah, dengan-Mu aku berpagi hari, dengan-Mu aku bersore hari, dengan-Mu kami hidup, dan dengan-Mu kami mati. Hanya kepada-Mu kami akan kembali) yakni dengan kekuasaan dan iradat-Mu, kami memasukinya.
Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i , seorang ulama Iran kenamaan menulis dalam tafsirnya al-Mizan antara lain bahwa manusia memberi nama bagi sesuatu dengan berbagai tujuan, antara lain untuk mengabadikan nama sesuatu, atau untuk mengenang sifat dan keistimewaan sesuatu yang dinamai itu, agar direnungkan dan diteladani atau bahkan agar memperoleh berkatnya. Inilah menurutnya tujuan penyisipan kata isim.
Oleh karena itu, ketika kita memulai suatu pekerjaan dengan menyebut “nama” Allah, maka berdasarkan analisis di atas pekerjaan tersebut diharapkan kekal di sisi Allah, dalam arti ganjaran atas pekerjaannya yang kekal sehingga dapat diraih kelak dihari Kemudian, tidak menjadi sia-sia. Allah dalam QS. 25. al-Furqan; 23 berfirman: “Kami hadapi hasil karya mereka kemudian Kami jadikan ia (karya mereka itu bagaikan) debu yang berterbangan (sia-sia belaka)”
Kata (اللّٰهِ) Allah merupakan nama Tuhan yang paling populer. Apabila Anda berkata “Allah” maka apa yang Anda ucapkan itu, telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain. Sedang bila Anda mengucapkan nama-Nya yang lain, misalnya al-Malik dan sebagainya hanya menggambarkan salah satu sifat kepemilikan-Nya saja. Di sisi lain, tidak satupun makhluk-Nya di dunia ini yang dapat dinamai Allah, baik secara hakikat maupun majaz. Sedang sifat-sifat-Nya yang lain, secara umum dapat dikatakan bisa disandang oleh makhluk-makhluk-Nya.
Dari segi lafazh terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya. Bacalah kata (اللّٰهِ) Allah dengan menghapus huruf awalnya, akan berbunyi (للّٰه) Lillah dalam arti Milik/bagi Allah. Kemudian hapus huruf awal dari kata Lillah itu akan terbaca (لٰه) Lahu dalam arti bagi-Nya selanjutnya hapus lagi huruf awal dari “lahu”, akan terdengar ucapan (ه) Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila ini pun dipersingkat akan dapat terdengar suara Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tetapi pada hakikatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Jika Anda menyebut nama Allah, maka pasti akan tenang hati Anda, demikian Firman-Nya: Dengan mengingat Allah, akan menjadi tenteram hati (QS. 13. ar-Ra‘d; 28).
Karena itu pula sebagian ulama berkata bahwa kata ‘Allah’ terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak. Itulah salah satu bukti adanya fitrah dalam diri manusia. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik adalah ‘Apabila kamu bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah’ (QS. 39. az-Zumar; 38).
Rasulullah bersabda: “Tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah, padamkanlah lampumu dan sebutlah nama Allah, tutuplah periukmu dan sebutlah nama Allah, rapatkan kendi airmu dan sebutlah nama Allah.”
Imam Ghazali menulis: “Manusia hamba Allah harus dapat mengambil dari lafazh ini kesadaran tentang Ta’alluh Allah (Kekuasaan-Nya yang mudak dalam kepemilikan dan pengaturan seluruh makhluk). Seluruh jiwa dan himmah (kehendak)nya harus dia kaitkan dengan Allah. Tidak memandang kecuali kepada-Nya, tidak menoleh kepada selain-Nya, tidak mengharap tidak pula takut kecuali kepada-Nya. Bagaimana tidak demikian, sedang ia seharusnya telah paham dari nama ini, bahwa sesungguhnya Dia adalah Wujud yang hakiki dan haq, sedang selain Dia, akan lenyap binasa. Dengan demikian, manusia akan memandang bahwa dirinya adalah yang pertama akan binasa dan dia adalah sesuatu yang batil, seperti pandangan Rasulullah: “Kalimat yang paling benar diucapkan seorang penyair adalah kalimat Labid yaitu: Segala sesuatu selain Allah pasti disentuh kebatilan” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibn Majah dari Abu Hurairah).
(الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ) Ar-Rahman ar-Rahim. Demikian banyak sifat/nama Tuhan, namun yang terpilih dalam Basmalah hanya dua sifat, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim yang keduanya terambil dari akar kata yang sama yaitu ‘rahim’. Kedua sifat ini dipilih, agaknya karena sifat itulah yang paling dominan. Dalam hal ini Allah dalam al-Qur’an menegaskan: “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu” (QS. 7. al-A‘raf; 156).
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam bersabda: “Allah Subhanahu Wa Ta\’ala menjadikan rahmat-Nya seratus bagian. Dia menyimpan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan-Nya ke bumi ini satu bagian. Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk. (Begitu meratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya” (HR. Muslim).
Thahir Ibn ‘Asyur menilai bahwa Basmalah dengan ketiga kata yang menunjuk kepada Allah Ar-Rahman ar-Rahim telah dikenal jauh sebelum turunnya al-Qur’an. Basmalah serupa dengan ucapan para nabi sejak zaman nabi Ibrahim Alaihis Salam dalam QS. 19. Maryam; 45 beliau mengucapkan: “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir engkau akan ditimpa azab dari ar-Rahman, maka kamu menjadi kawan bagi setan. ” dan QS. 2. al-Baqarah; 128). “Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Rahim”. Nabi Sulaiman pun memulai surahnya kepada ratu Saba’(Balqis) dengan Basmalah (QS. 27. an-Naml; 30).
Rasyad Khalifah (wafat 1990 M) berpendapat bahwa Basmalah memiliki jumlah huruf 19 huruf. Dalam al-Qur’an, kata ‘isim’, ‘Allah’, ‘ar-Rahman’ dan ‘ar-Rahim’ mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis oleh angka 19 itu. Kata ‘isim’, dalam al-Qur’an terulang sebanyak 19 kali, kata ‘Allah’ sebanyak 2698 kali (2698 : 19 = 142), ‘ar-Rahman’ 57 kali (57 : 19 = 3) dan ‘ar-Rahim’ 114 kali (114 : 19 = 6). Ini merupakan salah satu kunci yang menjamin keotentikan al-Qur’an hingga akhir zaman, karena bila terjadi perubahan kata, maka pastilah jumlah kata dan huruf-hurufnya tidak akan seimbang.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.