Tata Cara Salat Jenazah dan Salat Ghaib

Hukum salat jenazah adalah fardhu kifayah. Dalam Salat jenazah tidak ditentukan waktunya secara khusus, ia dapat dilakukan kapan saja, siang maupun malam hari, kecuali 3 waktu tertentu seperti saat matahari terbit hingga agak meninggi, ketika matahari tepat berada di tengah langit atau tepat tengah hari hingga ia telah condong ke barat, dan ketika disaat matahari hampir terbenam, hingga terbenam sama sekali.

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ  – رواه مسلم

Dari Musa bin Ali dari ayahnya ia berkata, saya mendengar ketika Uqbah bin Amir Al Juhani berkata; “Ada tiga waktu, yang Rasulullah (Muhammad) Sallallahu Alaihi Wasalam telah melarang kita untuk menjalankan salat atau menguburkan jenazah disaat waktu tersebut. Pertama, saat matahari terbit hingga agak meninggi. Kedua, ketika matahari berada tepat di pertengahan langit (tengah hari tepat) hingga ia telah condong ke barat. Ketiga, ketika matahari hampir terbenam, hingga ia terbenam sama sekali.” (HR Muslim)

SYARAT SALAT JENAZAH

1. Syarat-syarat salat jenazah :

a. Salat jenazah sama halnya dengan salat yang lain, yaitu harus menutup \’aurat, suci dari hadas besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya, mempunyai wudhu serta menghadap qiblat.

b. Mayit sudah dimandikan dan dikafani.

c. Menghadap kiblat, sedangkan mayit diletakkan berada di depan dari orang yang menyalatinya. Kecuali kalau salat dilakukan di atas kubur atau salat ghaib. * Sebagian ulama menyatakan diperbolehkan menyalatkan mayit yang masih berada di kamar jenazah dengan niat salat jenazah (bukan dengan niat salat ghaib) selama masih berada dalam satu wilayah yang tidak terlalu jauh.

2. Rukun dan cara mengerjakan salat jenazah :

Salat jenazah berebeda dengan salat pada umumnya. Salat jenazah dilakukan hanya dengan berdiri dan dengan 4 takbir kemudian ditutup dengan salam. Tidak dengan rukuk dan sujud serta tidak perlu ada adzan dan iqamat. Caranya adalah sebagai berikut :

1. Imam berdiri sejajar dengan kepala mayit laki-laki. Apabila mayitnya wanita, maka imam berdiri di bagian tengahnya. Makmum berdiri di belakang imam. Disunnahkan untuk berdiri tiga shaf (barisan) atau lebih. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mensalatkan jenazah dengan tiga shaf, maka sesungguhnya dia (si mayit) diampuni.”

2. Niat yang bersamaan dengan takbir pertama, baik imam maupun makmum membaca al Fatihah setelah ta’awwudz, (tapi tidak disunnahkan untuk membaca doa iftitah. Salat jenazah sebaiknya dilakukan secara ringkas, sedangkan doa iftitah dianggap terlalu panjang untuk dibaca dalam salat jenazah – Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 1, hal. 342). Takbir kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam sebagaimana dalam tasyahud/tahiyyat. Takbir ketiga, membaca doa untuk mayit. Takbir keempat, membaca doa untuk kaum muslimin dan muslimat lalu salam.

Tata Cara Salat Jenazah

Setelah berdiri sebagaimana mestinya akan mengerjakan salat, maka :

  1. Niat, Lafazh niatnya :

أُصَلِّي عَليَ هَذَا الميِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَاليَ

ushallii alaa haadzal mayyiti arba\’a takbiiraatin fardlal kifaayati (mamuuman/imaaman) lillaahi ta\’aalaa.

Saya (niat) mensalati mayit ini, empat kali takbir, fardhu kifayah (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

Untuk perempuan:

        أُصَلِّي عَليَ هَذَا مَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَاليَ

ushallii alaa haadza mayyitati arba\’a takbiiraatin fardlal kifaayati (mamuuman/imaaman) lillaahi ta\’aalaa.

Saya (niat) mensalati mayit ini, empat kali takbir, fardhu kifayah (dengan menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

إِمَامَا/مَأْمُومًا mamuuman/imaaman yang artinya dengan menjadi makmum atau imam dipilih sesuai dengan kondisi.

2. Takbir pertama, kemudian membaca ta’awwudz yang dilanjutkan dengan surah al-Fatihah;

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Audzubillahiminasyaitonirrojiim.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

3. Takbir kedua, dan membaca shalawat;

اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمّدْ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمّدْ

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad. Wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Semoga Allah memberikan shalawat bagi junjungan kami, Nabi Muhammad beserta keluarga.

Atau bacaan lengkapnya adalah:

اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمّدْ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمّدْ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدْ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمّدْ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ . فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad. Wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad. kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim, wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahiim, wa baarik ‘ala sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahiim, fil ‘aalamiina innaka hamiidun majiid.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan (Shalawat) untuk Nabi Muhammad beserta keluarga Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan (shalawat) kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung (Mulia).

4. Takbir ke tiga dan mendoakan si mayit;

Adapun minimal bacaan ketika jenazah laki-laki adalah:  

  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa‘fu anhu

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskanlah dan maafkanlah dia.

Sedangkan jenazah perempuan adalah:

   اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَها وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

Allaahummaghfir lahaa warhamhaa wa ‘aafihaa wa‘fu anhaa

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskanlah dan maafkanlah dia.

Jika ingin membaca doa yang lebih sempurna,

Ketika jenazah laki-laki maka dianjurkan membaca doa berikut:

  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ  

Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa‘fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bilmaa’i wats tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqaita ats-tsauba al-abyadh minad danasi, wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhu al-jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri wa min adzaabinnaar.

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskanlah dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempatnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah ia dengan air, salju, dan es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran. Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Kemudian masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.  

Sedangkan ketika jenazah perempuan:

   اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَها وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ  

Allaahummaghfir lahaa warhamhaa wa ‘aafihaa wa‘fu anhaa wa akrim nuzulahaa wa wassi’ madkhalahaa waghsilhaa bilmaa’i wats tsalji wal baradi, wa naqqihaa minal khathaayaa kamaa naqaita ats-tsauba al-abyadh minad danasi, wa abdilhaa daaran khairan min daarihaa wa ahlan khairan min ahlihaa wa zaujan khairan min zaujihaa wa adkhilhaa al-jannata wa a’idzhaa min ‘adzaabil qabri wa min adzaabinnaar.  

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskanlah dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempatnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah ia dengan air, salju, dan es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran. Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Kemudian masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.

Jika mayit anak anak do’anya adalah:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ

Allaahummaj’alhu farathan li abawaihi wa salafan wadzukhran wa’idzhatan wa’tibaaran wasyafii’an watsaqqil bihi mawaaziinahumaa wafri ghishshabra ‘alaa quluubihimaa walaa taftinhumaa ba’dahu walaa tahrimnaa aj rahu.

Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa ‘at bagi orang tuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu bapanya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu-bapaaya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepenmggalkannya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya.

5. Takbir keempat membaca doa untuk kaum muslimin dan muslimat;  

Untuk jenazah laki-laki:

   اَللّٰهُمَّ لاتَحرِمْنا أَجْرَهُ ولاتَفْتِنَّا بَعدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ  

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lanaa wa lahu  

Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

Untuk jenazah perempuan:

   اَللّٰهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا  

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa la taftinna ba’dahaa waghfir lanaa wa lahaa  

Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

Lebih sempurna dengan dilengkapi/ditambah do’a sebagai berikut:

وَلَاِ خْوَا نِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَااِنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْمٌ

wali ikhwaaninal ladziina saba-quuna bil iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillan lil-ladziina aamanuu rabbanaa innaka ra’uu fur rahiim

dan bagi saudara–saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau menjadikan unek–unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang–orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

6. Terakhir ditutup dengan salam ke kanan dan kiri.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalaamu ‘alaikum warohmatullaah

Salam dan rahmat Allah (semoga tercurahkan) bagi kalian semua

SALAT GHAIB

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا. (مُتَّفَقٌ (عَلَيْهِ  

Artinya, “Sungguh Nabi saw memberitakan kabar kematian Raja Najasyi di hari kewafatannya, lalu beliau bersama para sahabatnya keluar ke tempat salat, membariskan sahabatnya dan bertakbir sebanyak empat kali (salat Ghaib).” (Alawi Abbas al-Maliki, Hasan Sulaiman an-Nuri, Ibânatul Ahkâm Syarhul Bûlugil Marâm, juz II, halaman 173)

Bila ada keluarga atau handai taulan yang meninggal ditempat yang jauh dari sanak saudaranya, atau karena uzur lain yang menyebabkan kita tidak bisa hadir tepat waktu untuk mensalatkan si mayit sebelum dikubur, maka disunnahkan juga kita melakukan salat ghaib kepada si mayit walaupun waktunya sudah lewat dari seminggu atau lebih. Salat ghaib pada mayit itu adalah sah, sebagaimana salat jenazah biasa. Bacaan dalam salat pun sama saja dengan salat jenazah yang bukan ghaib. Hanya niatnya saja yang sedikit berbeda. Yakni dengan lafazh:

أُصَلِّي عَليَ الميِّتِ الغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَاليَ

Ushalli alal mayyitil ghaaibi arba\’a takbiirattin fardlal kifaayati (ma\’muuman/imaaman) lillaahi ta\’aalaa.

Saya (niat) mensalati mayit ghaib, empat kali takbir, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

Atau:

أصلى على ميت (فلان) الغائب اربع تكبيرات فرض الكفاية لله تعالى

Ushalli alal mayyitil (fulan/nama si mayit) al-ghaaibi arba\’a takbiiratin fardlal kifaayati (ma\’muuman/imaaman) lillaahi ta\’aalaa.

Saya niat salat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

Jika perempuan:

أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَةِ (فُلَانَةٍ) الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ  فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى  

Ushalli ‘alal mayyitati (fulanah/nama si mayit) al-ghaibati arba’a takbiiratin fardhal kifaayati (ma\’muuman/imaaman) lillahi ta’aalaa.  

Saya niat salat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

Bila jenazahnya banyak, misalnya korban bencana alam yang menimpa suatu daerah, maka lafal niatnya adalah:

أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى (…)أُصَلِّي عَلَى جَمِيعِ مَوْتَى قَرْيَةِ كَذَا الْغَائِبِينَ الْمُسْلِمِينَ

Ushalli ‘alal jamii’i mauta qaryati kadzaal ghaibiinal muslimiina (…) arba’a takbiiratin fardhal kifaayati imâman/ma’mûman lillahi ta’aalaa.  

Saya menyalati seluruh umat muslim yang jadi korban di daerah ‘…’ (sebutkan nama daerahnya) yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifayah (sebagai imam/makmum) karena Allah ta’ala.

Perbedaan antara salat sebagai makmum ataupun imam setelah melihat keterangan diatas adalah ditandai dengan adanya perbedaan pada pelafalan niatnya. (1)fardhu atau sunnah; (2) nama salatnya; (3) jumlah rakaat atau takbirnya; (4) dan kondisi yang menjadi landasannya. Hal ini juga berlaku bagi salat lain.

Doa setelah salat jenazah/ghaib.

Laki-Laki

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ.اِعْتِقْ رِقَابَنَاوَرِقَابَ هٰذَاالْمَيِّتِ مِنَ النَّارِ×٣

 اَللّٰهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَعَلٰى هٰذَالْمَيِّتِ وَاجْعَلْ قَبْرَهٗ رَوْضَةًمِنَ الْجَنَّةِ.وَلاَتَجْعَلْهُ لَهٗ حُفْرَةًمِنَ النِّيْرَانِ.وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى خَيْرِخَلْقِهٖ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Allaahumma sholli \’alaa sayyidinaa Muhammad wa\’alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Allaahumma bihaqqil fatihati i\’tiq riqaa banaa wariqaaba haadzal mayyiti x3

Allahumma anzilir rahmata wal maghfirata \’alaa haadzal mayyiti waj\’al qabrahuu roudhotan minal jannati. Walaa taj\’alhu lahuu hufratan minanniiraani. Washollallaahu \’alaa khoiri kholqihi sayyidinaa Muhammadin wa aalihii washohbihii ajma\’iina walhamdulillaahi rabbil \’aalamiin.

Perempuan :

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ.اِعْتِقْ رِقَابَنَاوَرِقَابَ هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ مِنَ النَّارِ×٣

 اَللّٰهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَعَلٰى هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ وَاجْعَلْ قَبْرَهَارَوْضَةًمِنَ الْجَنَّةِ.وَلاَتَجْعَلْهُ لَهَا حُفْرَةًمِنَ النِّيْرَانِ.وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى خَيْرِخَلْقِهٖ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Allaahumma sholli \’alaa sayyidinaa Muhammad wa\’alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Allaahumma bihaqqil fatihati i\’tiq riqaa banaa wariqaaba haadzihil mayyitati

Allahumma anzilir rahmata wal maghfirata \’alaa hadzihil mayyitati waj\’al qabrahaa roudhotan minal jannati. Walaa taj\’alhu lahaa hufratan minanniiraani. Washollallaahu \’alaa khoiri kholqihi sayyidinaa Muhammadin wa aalihii washohbihii ajma\’iina walhamdulillaahi rabbil \’aalamiin.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah memberikan shalawat bagi junjungan kami, Nabi Muhammad beserta keluarganya.

Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dan dosa mayat ini dari siksaan api neraka (3 x)

Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampunan kepada mayat ini. Dan jadikan lah tempat kuburnya taman nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.

Setelah disalati dan didoakan oleh sanak famili, jenazah agar disegerakan untuk dikubur dengan cara yang telah ditentukan dengan hukum syara’. Lantas, bagaimana dengan jenazah dari muallaf yang baru masuk islam, kemudian keluarga atau famili lainnya hendak menguburkan dengan cara lain? Maka maka wajib kita yang mengetahui menyampaikan kepada keluarganya agar dapat dikuburkan dengan cara Islam. Allah Subhanahu Wa Ta\’ala berfirman:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Demikian, semoga dapat bermanfaat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang: CV. Toha Putra. 1976. h.71-78

Safiinatun Najaah Fi Ushulid Diini Wal Fiqhi / Salim Bin Sumair Al Hadhrami. Bab IV.4

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top