Mukaddimah Qur’an Surah 8. al Anfal

Surah al-Anfal (Harta rampasan perang) adalah surah kedelapan pada perurutan surah dalam al-Qur’an. Sebagian ulama menilai bahwa surah ini adalah wahyu ke-89 yang diterima Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam (bila ditinjau dari segi perurutan surah yang beliau terima). Surah ini turun pada tahun kedua hijriah (Madaniyah), setelah turunnya sebagian ayat al-Baqarah.Mayoritas ulama berpendapat bahwa seluruh ayatnya yang berjumlah 75, turun setelah Nabi berhijrah. Ada yang mengecualikan ayat 64. Karena menganggap ayat itu turun setelah Umar Ibnu al-Khathab Radiallahu Anhu masuk Islam di Mekah. Pendapat lain mengecualikan ayat 30 yang berbicara tentang makar (tipu daya) kaum musyrikin menjelang hijrah. Ada juga pendapat lain yang mengecualikan lima ayat lagi sesudah ayat 30. Memang dapat dipahami bila ayat-ayat itu dikecualikan, karena kandungannya berbicara tentang peristiwa atau situasi di Mekah. Akan tetapi menurut Prof. M. Quraish Shihab bisa saja ayat itu turun di Madinah dalam konteks mengingatkan kaum muslimin tentang apa yang telah terjadi sebelumnya di Mekah atau di mana pun, agar dapat dijadikan bahan pelajaran atau untuk mensyukuri nikmat Allah.Nama surah ini telah dikenal sejak masa Rasulullah. Penamaan tersebut diambil dari uraian ayatnya yang pertama, yang berbicara tentang al-Anfal (harta rampasan perang). Nama lain surah ini adalah surah “Badr”. Nama ini disebut oleh sahabat Nabi, Ibnu  ‘Abbas Radiallahu Anhu\’ ketika menguraikan ayat-ayat ini yang juga mengisahkan perang Badr, sebagai perang pertama antara Rasulullah bersama kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekah, di lembah yang bernama Badr. Surah ini juga dinamai surah al- ]ihad, karena banyak ayat-ayatnya yang berbicara tentang jihad.Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I berpendapat bahwa tema utama dan tujuan penting dari uraian surah ini adalah untuk menekankan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat sedikitpun, begitu juga tidak dapat menampik mudharat (bencana) kecuali berkat izin dan bantuan Allah  Subhanahu Wa Ta\’ala. Sehingga ayat ini turun agar manusia dapat memahami mengapa ia harus berserah diri kepada Allah dan berpegang teguh pada tali agama-Nya, yang pada gilirannya mengantar kepada persatuan dan kemenangan kala menghadapi musuh-musuh Allah.Hal ini dapat terlihat dari pesan dari surah-surah sebelum al Anfal, yang memerintahkan agar mengikuti perintah Allah dengan penuh kepatuhan, penyerahan diri, dan kerelaan, serta mengembalikan semua kekuatan kepada Allah. Karena jika Allah menghendaki bisa saja dengan mudah mencabut kekuatan yang ada pada manusia kapanpun dan dimanapun.Sebagaimana terlihat dalam uraian surah ini. Ketika itu kaum muslimin berselisih tentang al-Anfal (harta rampasan perang) maka Allah menghalangi mereka mengambilnya secara langsung, dan mengharuskan mereka untuk tunduk dengan kerendahan hati serta menetapkan bahwa yang membaginya merupakan kewenangan Rasulullah. Itu karena kemenangan Badr dan perolehan harta rampasan tercapai berkat lemparan segumpal batu-batu kecil kehadapan kaum musyrikin dan mengenai mata mereka semua, dan itu merupakan mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Nabi kemudian membaginya kepada pasukan yang ikut berperang, sebagai anugerah dan tanda kasih kepada mereka. Demikian uraian al-Biqa‘i.Al-Biqa‘i selanjutnya menjelaskan hubungan surah al-Anfal dengan surah sebelumnya. Pada surah al-A ‘raf diuraikan sekelumit kisah nabi-nabi dengan umatnya, di sini pada surah al-Anfal diuraikan juga sekelumit kisah Nabi Muhammad saw. dengan umat beliau. Pada surah al-A‘raf menguraikan tentang Nabi Musa Alaihis Salam dan keistimewaannya yang sangat menonjol, maka agar tidak timbul kesan keutamaan Nabi Musa Berada di atas seluruh nabi, diuraikanlah dalam surah al-Anfal ini tentang Nabi Muhammad, bahkan dalam dua surah secara berurut, yaitu pada surah al-Anfal yang menguraikan keadaan beliau pada awal masa perjuangan dan pertengahannya, kemudian pada surah berikutnya yakni surah Bara \’ah (at-Taubah) yang menguraikan penghujung dan akhir perjuangan beliau.Kisah kedua nabi besar itu pun —Nabi Muhammmad Sallallahu Alaihi Wasalam dan Nabi Musa Alaihis Salam– berbeda bahkan bertolak belakang. Kaum Nabi Musa menampilkan perlakuan yang tidak terpuji. Bani Israil telah mendapat kabar dari para pendahulu mereka bahwa akan ada nabi yang akan memimpin mereka melawan Fir‘aun, jumlah Bani Israil pada saat itu pun lebih dari enam ratus ribu orang, namun mereka terus membangkang kepada nabinya walau dalam hal-hal yang remeh. Di samping itu mereka tidak memiliki semangat juang menghadapi Fir\’aun dan tentaranya.Adapun Nabi Muhammad, beliau hadir di tengah kaumnya bangsa Arab yang tidak memiliki pengalaman tentang kenabian, bahkan tidak mengetahuinya. Tidak juga tertindas sebagaimana kaum Nabi Musa, bahkan mereka adalah penguasa-penguasa wilayah. Kaum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. pada mulanya merasa bahwa Nabi datang untuk merebut kekuasaan dan kehormatan mereka, serta bermaksud menjadikan mereka pengikut, karena itu mereka menentang beliau bahkan menggunakan cara makar dan segala tipu daya untuk menghalangi beliau. Namun Allah swt. memenangkan hamba-Nya dan terus mendukung beliau hingga manusia berbondong-bondong memeluk Islam. Demikian terlihat perbedaan kisah kedua nabi mulia itu dan keutamaan Nabi Muhammad saw. Jelas Al-Biqa’i yang dijelaskan kembali oleh Prof. M. Quraish Shihab.Wallahu a‘lam bish-shawab.Sumber utama :Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.dan sumber lainnya.

Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top