Mukaddimah Qur’an Surah 25. al Furqan

Surah ini terdiri dari 77 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Dinamakan al-Furqan, berarti ‘pembeda’, diambil dari ayat pertama. Surah ini merupakan surah ke-42 dari segi perurutannya, sebelum surah Fathir dan sesudah surah Yasin. Thahir Ibn ‘Asyur mengatakan para pengajar di Tunis menamainya surah Tabarak al-Furqan, sebagaimana mereka menamai surah al-Mulk dengan Tabaraka al-Mulk.

Sebagian ulama mengecualikan ayat 68,69, dan 70 dengan menyatakan turun di Madinah, namun pengecualian ini ditolak oleh mayoritas ulama. Menurut Thabathaba’I, dugaan itu muncul karena disana ada uraian tentang pengharaman zina. Tetapi ini bukanlah alasan yang benar karena pengharaman minuman keras dan zina telah dilakukan sejak awal kehadiran Islam. Lihat pula uraian Qur’an surah 24. an Nur; 33 yang menyatakan pengharaman zina dilakukan secara bertahap.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Umar Ibn Khathab Radiallahu Anhu berkata “Aku mendengar Ibn Hizam membaca surah al-Furqan pada masa hidup Rasulullah, aku mendengar dengan tekun bacaannya, maka kutemukan dia membaca dengan ‘huruf-huruf’ (bacaan-bacaan) yang berbeda dengan yang diajarkan kepadaku oleh Nabi. Aku hampir saja ‘menerkamnya’ dalam shalat, tetapi aku sabar hingga dia selesai, lalu aku menarik leher bajunya dan berkata kepadanya ‘Siapa yang mengajar kepadamu surah yang aku dengar engkau baca tadi?’ Dia mengaku bahwa Rasul yang mengajarnya. Maka aku menggiringnya kepada Rasul dan ketika tiba dihadapan Rasul beliau meminta Hisyam Ibn Hakim Ibn Hizam membacanya, lalu beliau bersabda ‘demikianlah surah itu turun’. Kemudian beliau memerintahkan aku membacanya dan setelah selesai kubaca sebagaimana beliau ajarkan kepadaku, beliau bersabda juga ‘demikian jugalah surah ini turun, al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf maka bacalah apa yang mudah darinya (HR. Bukhari)

Tujuan utamanya adalah penjelasan tentang ajaran Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam dan pembuktian tentang kebenarannya. Ada 3 hal pokok, yaitu : 1) Al-Qur’an dan kebenaran Rasulullah, serta kedudukan beliau di sisi Allah Subhanahu Wa Ta\’ala; 2) Keniscayaan hari Kiamat serta balasan dan siksa, kemudian 3) Pembuktian tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I berpendapat bahwa tujuan surah ini adalah memberi peringatan kepada seluruh orang muslim/mukallaf tentang kuasa Allah yang menyeluruh, serta pengetahuan-Nya yang mencakup segala sesuatu. Dia-lah Haq yang sempurna, sedangkan selain-Nya adalah batil. Penamaannya dengan al-Furqan, yakni pemisah antara yang haq dan yang batil, merupakan bukti paling jelas tentang hal itu

Sayyid Quthub menilai surah ini bagaikan menghibur Rasulullah, menenangkan hati beliau, serta meneguhkannya dalam menghadapi kekeraskepalaan kaum musyrikin Mekkah. Surah ini bagaikan menghapus dengan lemah lembut kepedihan dan kesedihan yang menyelubungi hati beliau sambil memenuhinya dengan rasa percaya diri dan menghembuskan kepada beliau hembusan pemeliharaan, kasih sayang dan cinta.

Diceritakan pula kisah para nabi, Nabi Musa Alaihis Salam dan Nuh Alaihis Salam, Diakhiri dengan penjelasan sifat orang yang dikasihi Allah sebagai arahan bagi orang yang beriman.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top