

Dalam era modern, risiko bencana alam meningkat secara signifikan seiring dengan pertumbuhan populasi, urbanisasi yang pesat, serta dampak nyata perubahan iklim global. Menghadapi tantangan ini, komunitas internasional menyadari perlunya kebijakan terpadu yang melampaui sekadar respons darurat pascabencana. Sebagai bentuk komitmen kolektif, dirumuskanlah Hyogo Framework for Action (HFA) 2005–2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters. Kerangka kerja ini menjadi pilar historis dan cetak biru global pertama dalam pengelolaan serta pengurangan risiko bencana.
Sejarah dan Latar Belakang Hyogo Framework for Action (HFA)
Hyogo Framework for Action (HFA) dikembangkan di bawah naungan United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR), yang kini telah bertransformasi menjadi United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). Kerangka kerja ini diadopsi oleh 168 negara dalam World Conference on Disaster Reduction yang berlangsung pada 18–22 Januari 2005 di Kobe, Wilayah Hyogo, Jepang.
Momentum pengesahan HFA ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang masif. Konferensi tersebut diselenggarakan tepat satu bulan setelah terjadinya tragedi Tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004. Katastrofe kemanusiaan yang menelan ratusan ribu korban jiwa tersebut menjadi wake-up call global. Peristiwa ini mempercepat kesadaran bahwa dunia sangat membutuhkan sistem peringatan dini yang andal dan manajemen risiko yang terstruktur.
Visi dan Misi Hyogo Framework for Action (HFA)
Visi utama dari HFA adalah mewujudkan penurunan kerugian bencana secara signifikan pada tahun 2015—baik kerugian jiwa maupun aset sosial, ekonomi, dan lingkungan di berbagai komunitas dan negara. Misi utamanya berfokus pada penguatan kapasitas lokal, nasional, regional, dan internasional demi membangun budaya keselamatan dan ketahanan terhadap ancaman bencana.
Dalam dokumen resmi UNDRR tentang Hyogo Framework menetapkan lima prioritas tindakan yang wajib diimplementasikan oleh negara-negara penandatangan:
- Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana merupakan prioritas nasional dan lokal dengan landasan kelembagaan yang kuat untuk pelaksanaannya.
- Mengidentifikasi, menilai, dan memantau risiko bencana serta meningkatkan sistem peringatan dini.
- Menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan untuk membangun budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkatan.
- Mengurangi faktor-faktor risiko dasar (underlying risk factors) melalui pengelolaan lingkungan, tata ruang, sektor sosial-ekonomi, dan infrastruktur yang aman.
- Memperkuat kesiapsiagaan bencana demi terciptanya respons yang efektif di semua tingkatan masyarakat.
Implementasi dan Tantangan Hyogo Framework for Action (HFA)
Pelaksanaan HFA mendorong lahirnya berbagai produk hukum baru di tingkat domestik berbagai negara. Sebagai contoh, Indonesia merespons komitmen ini dengan mengesahkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Perpres Nomor 8 Tahun 2008 (kemudian diperbarui lewat Perpres Nomor 1 Tahun 2019), serta mengubah Bakornas PB menjadi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Meski memicu progres regulasi yang pesat, implementasi lapangan menghadapi tantangan besar, antara lain:
- Keterbatasan anggaran alokasi khusus penanggulangan risiko bencana di tingkat daerah.
- Kurangnya kapasitas teknis aparat pemerintahan dalam memetakan data risiko secara akurat.
- Belum optimalnya integrasi antara agenda Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dengan Adaptasi Perubahan Iklim (API).
Evaluasi dan Transisi Menuju Sendai Framework
Memasuki akhir masa baktinya pada tahun 2015, evaluasi paruh waktu (Mid-term Review) menunjukkan bahwa HFA berhasil menekan angka fatalitas global akibat bencana meteorologis melalui sistem peringatan dini yang lebih maju. Namun, kerugian ekonomi akibat kerusakan infrastruktur masih dinilai sangat tinggi.
Guna memperkuat area yang belum selesai, komunitas internasional menyepakati peta jalan baru dalam Konferensi Dunia di Sendai, Jepang. HFA secara resmi digantikan oleh Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030, yang menggeser fokus dunia dari sekadar manajemen bencana menuju manajemen risiko bencana yang lebih inklusif dan preventif.
Kesimpulan
Hyogo Framework for Action 2005–2015 adalah tonggak fundamental yang mengubah paradigma dunia dari responsif-reaktif (bertindak setelah bencana terjadi) menjadi preventif-kesiapsiagaan. Fondasi kelembagaan dan lima prioritas aksi yang diletakkan oleh HFA menjadi pijakan krusial bagi keberlanjutan agenda ketahanan global yang hari ini diteruskan oleh Sendai Framework.
Referensi
- United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). (2005). Hyogo Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters.
- United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030.
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi dunia dan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
#Hyogo Framework for Action (HFA)
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.