Allah Subhanahu wa Ta\’ala telah mengutus para nabi dan rasul sebagai contoh petunjuk jalan menuju ketauhidan (pengesaan Tuhan) bagi manusia lainnya.
Nabi dan rasul adalah maksum, yaitu terpelihara dari kesalahan dan dosa karena mendapat bimbingan langsung oleh Allah. Sedangkan manusia biasa tentu senantiasa dapat berbuat salah dan dosa. Tentunya sebagai suri tauladan, nabi dan rasul memiliki akhlak yang lebih utama daripada manusia biasa. Setidaknya nabi dan rasul 4 sifat yang wajib, yaitu:
- Fathonah, yang berarti cerdas, Nabi dan rasul mendapat bimbingan langsung oleh Allah sehingga para nabi dan rasul memiliki kemampuan (biasa disebut sebagai logika nubuwwah) untuk memberikan keputusan dalam perselisihan, menanggapi bantahan umat yang tidak mempercayai mereka, dan mampu membantah dakwaan-dakwaan yang ditujukan kepada mereka. Meskipun terkadang bagi orang awam tampak kurang tepat. Akan tetapi logika nubuwwah merupakan cara menggunakan akal sehat yang kebenarannya mutlak; Sifat mustahil: Baladah (bodoh).
- Shiddiq, yang berarti jujur, semua berita yang para nabi dan rasul sampaikan adalah sesuai dengan kenyataan; Sifat mustahil: Kidzib (dusta atau bohong)
- Tabligh, yang berarti menyampaikan kebenaran, yaitu menyampaikan perintah atau larangan Allah kepada seluruh makhluk; Sifat mustahil: Kitman (menyembunyikan)
- Amanah, yang berarti dapat dipercaya, maksudnya segala dari apa yang diwahyukan dan diperintahkan Allah, disampaikan kembali tanpa dikurangi sedikitpun. Atau melaksanakan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Sifat mustahil: Khianat (tidak dapat dipercaya)
Adapun sifat jaiz (mungkin), itu adalah sama seperti sifat manusia biasa, bahkan dijadikan contoh bagi sekalian manusia dengan maksud bahwa nabi dan rasul adalah bukan sebagai tuhan itu sendiri ataupun anak tuhan. Maka mereka pun mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasa, yakni seperti makan, berkeluarga, penat, mati, merasakan enak dan tidak enak, sehat dan juga menderita sakit, yang tidak mengurangi kedudukannya sebagai nabi dan rasul.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama : Aqîdatul ‘Awâm / al-Imam al-‘Allâmah Ahmad bin Muhammad Ramadhân bin Manshûr al-Makki al-Marzûki al-Mâliki al-Husaini al-Hasan (Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki Al-Makki)
Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam / Syekh Nawawi al-Bantani
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.