
Dalam percakapan sehari-hari maupun debat formal, sering kita mendengar istilah “whataboutism” atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “rem blong” atau “mengalihkan perhatian.” Istilah ini merujuk pada sebuah taktik retoris yang digunakan untuk mengalihkan perhatian dari pokok pembahasan dengan mengajukan argumen yang tidak relevan, biasanya berupa tuduhan serupa terhadap pihak lain. Meskipun terdengar seperti cara yang mudah untuk membela diri, whataboutism justru sering digunakan untuk mengaburkan fakta dan menghindari tanggung jawab.
Definisi dan Asal-Usul Whataboutism
Berasal dari bahasa Inggris “what about” yang berarti “bagaimana dengan” dan “-ism” yang menunjukkan sebuah paham atau praktik. Istilah ini sering muncul dalam diskusi politik dan media massa, terutama ketika satu pihak berusaha mengalihkan perhatian dari kritik yang diarahkan kepada mereka dengan menunjukkan kesalahan atau kekurangan pihak lain.
Contoh klasiknya adalah ketika seseorang dikritik tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah tertentu, dan mereka membalas dengan mengatakan, “Tapi bagaimana dengan pelanggaran hak asasi manusia di negara lain?” Dengan begitu, fokus dari kritik utama menjadi kabur dan tidak lagi relevan terhadap pokok masalah.
Ciri-Ciri Whataboutism
- Mengalihkan Perhatian
Tujuan utamanya adalah mengalihkan perhatian dari isu utama ke isu lain yang dianggap sejenis atau lebih besar, sehingga kritik tidak lagi relevan. - Menggunakan Argumen Serupa
Biasanya, pihak yang melakukan whataboutism akan menuduh lawannya melakukan hal yang sama atau lebih buruk, meskipun ini tidak menjawab kritik awal. - Mengurangi Kredibilitas Lawan
Dengan menyoroti kesalahan atau kekurangan pihak lawan, pelaku whataboutism berusaha melemahkan posisi lawan tanpa harus menyanggah argumen utama. - Tidak Menyelesaikan Masalah
Strategi ini tidak pernah bertujuan menyelesaikan masalah, melainkan untuk mengalihkan perhatian dan mengurangi tekanan.
Dampak Negatif dari Whataboutism
Hal ini memiliki dampak yang cukup merugikan dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan:
- Mengaburkan Fakta dan Kebenaran
Dengan mengalihkan perhatian ke isu lain, kebenaran asli sering kali terabaikan atau terlupakan. - Menghambat Dialog yang Konstruktif
Dialog yang seharusnya fokus pada solusi menjadi penuh dengan saling menyalahkan dan berbalas tuduhan. - Memperkuat Polarisasi
Dalam konteks politik, dapat memperkuat polarisasi masyarakat karena memperkuat sikap defensif dan saling tuduh. - Mengurangi Akuntabilitas
Pelaku yang sering menggunakan taktik ini cenderung menghindari tanggung jawab atas kesalahan mereka sendiri.
Contoh-contoh Whataboutism dalam Sejarah dan Kehidupan Sehari-hari
- Dalam Politik Internasional:
Ketika ada kritik terhadap kebijakan suatu negara, pemerintahnya mungkin membalas dengan menunjukkan pelanggaran hak asasi manusia di negara lain, seperti:
“Kenapa kalian fokus pada pelanggaran di sini, padahal negara lain juga melakukan hal yang sama?” - Dalam Diskusi Sosial:
Ketika ada kritik terhadap perilaku masyarakat tertentu, orang akan membalas dengan:
“Tapi orang lain juga melakukan hal yang sama.” - Dalam Media Massa:
Ketika wartawan atau komentator mengkritik suatu kebijakan pemerintah, pihak yang bersangkutan mungkin menanggapi dengan menunjukkan kekurangan pemerintah lain untuk mengalihkan perhatian.
Mengapa Orang Menggunakan Whataboutism?
Penggunaannya sering kali didasari oleh beberapa faktor:
- Menghindari Kritik Langsung:
Lebih mudah untuk mengalihkan perhatian daripada menyanggah kritik secara langsung. - Mengurangi Rasa Malu atau Rasa Bersalah:
Dengan menunjukkan kekurangan pihak lain, pelaku merasa lebih aman dan tidak perlu mengakui kesalahan sendiri. - Strategi Politikal dan Propaganda:
Dalam dunia politik dan propaganda, taktik ini digunakan untuk menjaga citra dan mempertahankan posisi.
Bagaimana Menanggapi Whataboutism?
Untuk mengatasi dan menghindari terjebak dalam whataboutism, beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah:
- Fokus pada Isu Utama:
Tetap teguh pada pokok diskusi dan jangan teralihkan oleh argumen yang tidak relevan. - Tanya Balik dengan Pertanyaan Relevan:
Misalnya, “Apakah ini membantumu menjawab kritik terhadap isu utama?” - Berikan Bukti dan Data yang Jelas:
Mendukung diskusi dengan fakta dapat membantu menekan taktik pengalihan. - Sadar akan Taktik ini:
Dengan mengenali whataboutism, kita bisa lebih berhati-hati dan tidak terjebak dalam permainan pengalihan.
Kesimpulan
Whataboutism merupakan strategi retoris yang sering digunakan untuk mengalihkan perhatian dari isu utama dengan cara membandingkan atau menuduh pihak lain melakukan hal yang sama. Meskipun terlihat seperti cara membela diri, praktik ini justru menghambat proses pencarian solusi dan memperkuat polarisasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali taktik ini dalam diskusi dan tetap fokus pada fakta serta solusi, demi terciptanya dialog yang sehat dan konstruktif.
Dalam dunia yang penuh informasi dan berbagai kepentingan, kemampuan untuk mengidentifikasi dan menghindari whataboutism adalah kunci untuk menjaga integritas diskusi dan memperjuangkan kebenaran. Mari kita berkomitmen untuk berargumen secara jujur dan relevan, serta menghargai perbedaan pendapat tanpa mengalihkan perhatian dari pokok masalah.
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi dunia dan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.