Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah salat fardhu. Itu pun jika sang hamba menyempurnakannya. Jika tidak, maka disampaikan, “Lihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (salat) sunnah?” Jika memiliki amalan salat sunnah, sempurnakan amalan salat fardhu dengan amal salat sunnahnya. Kemudian, perlakukanlah amal-amal fardhu lainnya seperti tadi,” (HR. Ibn Majah).
Sedangkan dalam hadis Qudsi dikatakan “Bila seorang hamba mengalami cacat atau kurang dalam amal ibadah, maka Allah berfirman, ‘Wahai para malaikat, lihatlah dahulu apakah hambaku punya amal sunnah, sehingga itu bisa menyempurnakan amalnya yang kurang?”
Secara singkat, sunnah Rawatib adalah ibadah salat sunnah yang dikerjakan sendiri untuk mengiringi salat fardhu, baik qabliyah (dilakukan sebelum salat fardhu) maupun ba’diyah (dilakukan setelah salat fardhu). Pada umumnya Setiap salat sunnah terdiri dari 2 rakaat yang ditutup dengan salam. saat berbicara 4 rakaat, berarti melakukan 2x salat sunnah, 10 rakaat berarti 5x salat sunnah, dan seterusnya. Diutamakan tempat mengerjakan salat sunnah berbeda dari tempat salat fardhu (pindah/bergeser sedirit). Salat sunnah rawatib terbagi menjadi 2, yang muakkad dan ghair muakkad. Yaitu:
Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan):
2 raka\’at sebelum salat Dzuhur;
2 rakaat sesudah salat Dzuhur;
2 raka\’at sesudah salat Maghrib;
2 raka\’at sesudah salat \’Isya;
2 raka\’at sebelum salat Subuh (sesudah salat Subuh tidak ada sunnah ba\’diyah).
Sunnah Ghair Muakkad (dianjurkan):
tambahan 2 rakaat sebelum salat Dzuhur;
tambahan 2 rakaat setelah salat Dzuhur;
4 rakaat sebelum salat Asar (sesudah salat \’Asar tidak ada sunnah ba\’diyah);
2 rakaat sebelum salat Maghrib;
2 rakaat sebelum salat Isya.
Perbedaan niat dalam salat ditandai dengan adanya perbedaan pada pelafalan niatnya. (1) fardhu atau sunnah; (2) nama salatnya; (3) jumlah rakaat atau takbirnya; (4) dan kondisi yang menjadi landasannya. Hal ini juga berlaku bagi salat lain. Berikut niat salat Rawatib:
Dzuhur
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatad dzuhri rok’ataini qabliyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat qabliyah Dzuhur dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatad dzuhri rok’ataini ba’diyyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat ba’diyah Dzuhur dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
Begitu juga dengan salat sunnah pada hari Jumat, sebelum dan sesudah salat Jumat.
Dalam niat, kata Dzuhur diganti dengan Jumat. الظُّهْرِ- الْجُمْعَةِ;
Asar
اُصَلِّيْ سُنَّةَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan ashri rok’ataini qabliyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat qabliyah Asar dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
Maghrib
اُصَلِّيْ سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan maghribi rok’ataini qabliyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat qabliyah Maghrib dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
اُصَلِّيْ سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan maghribi rok’ataini ba’diyyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat ba’diyah Maghrib dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
Isya
اُصَلِّيْ سُنَّةَ العِشَاء رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan isyai rok’ataini qabliyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat qabliyah ‘Isya dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
اُصَلِّيْ سُنَّةَ العِشَاء رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan isyai rok’ataini ba’diyyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat ba’diyah ‘Isya dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
Subuh
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْح رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatas subhi rok’ataini qabliyatan mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.
Saya niat salat qabliyah Subuh dua rakaat menghadap kiblat karena Allah.
Dari Aisyah Radiallahu Anha bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam telah bersabda: Dua Rakaat fajar (Salat sunnah yang dikerjakan sebelum shubuh) itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya\”. (HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar Radiallahu Anhu ia berkata: Pernah saya salat bersama Rasulullah dua raka\’at sebelum zhuhur dan dua raka\’at sesudah zhuhur, dan dua raka\’at sesudah Jum\’at dan dua raka\’at
sesudah Isya\”.(HR Bukhari dan Muslim)
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.78-81
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.