Tata Cara Salat Sunnah Dhuha

\”Siapa saja yang dapat mengerjakan salat Dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lutan\” (HR. At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

“Orang yang mengerjakan salat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i)

Diriwayatkan dari Abu Dzar radliyallahu anhu, dari Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam, beliau bersabda: “Ada sedekah (yang hendaknya dilakukan) atas seluruh tulang salah seorang dari kalian. Karena itu setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan dua rakaat salat Dhuha mencukupi semuanya itu’,” (HR Muslim)

Dalam hadis qudsi dinyatakan “Dari Abu Darda’ dan Abu Dzar dari Rasulullah langsung) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala “ruku’lah untukku empat rakaat di permulaan hari (pagi), maka Aku akan mencukupi-Mu di sisa hari-Mu” (HR Ahmad)

Kata Dhuha secara bahasa adalah nama untuk awal siang hari (pagi). Salat Dhuha ialah salat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik. Hukumnya sunnah muakkad. Jumlah rakaat dalam salat Dhuha ini bisa dikerjakan hanya 2 rakaat, boleh juga 4, 6, hingga 8 rakaat dan ada juga yang mengatakan, 10 dan maksimal 12 raka\’at, (dengan tiap 2 rakaat salam).

Waktu salat Dhuha ini kira-kira matahari sedang naik setinggi +7 hasta/2,5 meter dan Naiknya matahari itulah yang menjadi batas akhirnya,  (sekitar pukul tujuh sampai 30 menit sebelum memasuki waktu Dzuhur). Bisa juga menggunakan cara lain, yaitu melihat bayangan suatu benda. Jika panjang bayangan sudah sama dengan tinggi bendanya, maka masuklah waktu dhuha.

Bacaan surah yang dianjurkan dalam salat Dhuha pada raka\’at pertama ialah surah asy Syams (Wa asy Syams wa Dhuhaha) dan pada raka\’at kedua surah ad-Dhuha (Wad-Dhuhaa wal-laili). Atau surah al-Kafirun dan al-Ikhlas. Berikut adalah niatnya:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatad Dhuhaa rak‘ataini lillaahi ta‘aalaa.

“Saya niat salat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Berikut adalah doa sesudah salat:

  اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَآءَ ضَحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَــالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسَرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضَحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِيْ مَآ أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ  

Allâhumma innad dlahâ’a dlahâ’uka, wal bahâ’a bahâ’uka, wal jamâla jamâluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allâhuma in kâna rizqî fis samâ’i fa anzilhu, wa inkâna fil ardhi fa akhrijhu, wa inkâna mu’siran (mu‘assaran) fa yassirhu, wa in kâna harâman fa thahhirhu, wa inkâna ba‘îdan fa qarribhu, bi haqqi dlahâ’ika wa bahâ’ika wa jamâlika wa quwwatika wa qudratika, âtinî mâ atayta ‘ibâdakas shâlihîn.  

“Wahai Tuhanku, sungguh Dhuha ini adalah Dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rejekiku berada di atas langit, maka turunkanlah; jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah; jika dipersulit, mudahkanlah; jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah; dengan hak Dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah kepadaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”

   اَللّٰهُمَّ بِكَ أُصَاوِلُ وَبِكَ أُحَاوِلُ وَبِكُ أُقَاتِلُ  

Allâhumma bika ushâwilu, wa bika uhâwilu, wa bika uqâtilu.

 “Dengan-Mu, aku menerjang. Dengan-Mu, aku berupaya. Dengan-Mu, aku berjuang.”  

Kemudian doa:

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ  

Dibaca sebanyak 40 atau 100 kali

Rabbighfir lî, warhamnî, wa tub ‘alayya, innaka antat tawwâbur rahîm.

“Tuhanku, ampunilah aku. Kasihanilah aku. Terimalah tobatku. Sungguh, Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”

Apakah salat Isyraq sama dengan salat Dhuha?

Para ulama berbeda pendapat perihal apakah salat Isyraq adalah sama dengan salat dhuha atau bukan. Sebagian ulama menyamakan salat Isyraq dan salat Dhuha. Tetapi ulama lain membedakan salat Isyraq dan salat sunnah Dhuha.

Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadak meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa salat Isyraq adalah salat awwabin (orang yang tobat), yaitu salat Dhuha. Shalat sunnah ini dinamai demikian berdasarkan hadits “Tiada yang melazimkan salat dhuha kecuali orang yang tobat.” (HR Al-Hakim. Menurutnya, hadits ini shahih menurut syarat yang digunakan Imam Muslim) (Lihat Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz III, halaman 214)

Sedangkan bagi yang menganggap berbeda, didasarkan atas hadis “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam berdiri untuk salat dua rakaat ketika matahari terbit dan ketika matahari mulai menjulang tinggi dari arah timur, yaitu saat seperempat siang, Rasulullah kembali melakukan salat empat rakaat” (HR. at-Tirmidzi)

Serta menganggap jumlah rakaat salat Isyraq hanya terbatas dua rakaat saja. (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 4, hal. 311). Sedangkan bagi yang menganggap salat Isyraq sama dengan salat Dhuha mengatakan maksimal salat adalah 8 rakaat. Pada saat rakaat pertama salat Isyraq disunnahkan membaca surah ad-Dhuha, dan pada rakaat kedua disunnahkan membaca surah al-Insyirah (alam nasyrah).

Demikian, semoga dapat bermanfaat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.83-85

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top