Orang yang sedang dalam perjalanan diberikan kemudahan dalam melaksanakan salatnya yakni diperbolehkan untuk mengqashar dan/atau menjamak. Dengan syarat jarak perjalanan yang ditempuh adalah 2 marhalah (dua hari dua malam bila ditempuh dengan jalan kaki), atau sama dengan 16 farsah (138 km). Sedangkan menurut Abdul Rahman Al—Jazairi dalam Kitabul Fiqih \’alal Madzahibil arba\’ah, dinyatakan 16 farsah = 81 km.)
Mengqashar berarti meringkas salat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Salat yang boleh diqashar adalah salat Dzuhur, Ashar dan ‘Isya’. Namun, apabila seorang musafir bermakmum dibelakang imam yang memang tinggal menetap disekitar masjid tersebut (muqim) maka salat dilakukan secara sempurna dengan jumlah rakaat normal karena harus mengikuti imam, berdasarkan keumuman hadis: “Sesungguhnya (seseorang) itu dijadikan imam untuk diikuti”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sedangkan jamak berarti menggabungkan dua salat dalam satu waktu. Yaitu DDzuhur dengan Ashar; Maghrib dengan \’Isya didalam satu waktu Perihal Jamak dibagi menjadi Jamak Taqdim dan Jamak Takhir. Jamak Taqdim adalah dua salat digabung pada waktu dilaksanakannya salat pertama. Sedangkan Jamak Takhir digabung adalah dua salat digabung pada waktu dilaksanakannya salat kedua. Dengan syarat (1) Memasuki waktu yang ditentukan (2) Niat jamak dilakukan pada salat pertama. (3) Berurutan antara keduanya; Dzuhur kemudian Ashar dan Maghrib kemudian Isya (tidak boleh dibalik) serta tidak boleh disela dengan salat sunnah atau perbuatan lain.
وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ ۖ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ اِنَّ الْكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar salat (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” (An-Nisa’: 101)
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَرَّ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ (رواه البخارى)
Dari Anas Ibn Malik Radiallahu Anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam berangkat menuju perjalanan sebelum tergelincir matahari, beliau akhirkan salat Dzuhur ke waktu Asar. Kemudian beliau berhenti untuk menjamak salat keduanya. Dan jika matahari tergelincir sebelum ia berangkat, maka beliau salat Dzuhur terlebih dahlu kemudian naik kendaraan.” (HR. Bukhari)
Musafir yang memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan diatas boleh mengerjakan salat jama\’ dan qashar sekaligus, yaitu mengumpulkan salat dan memendekkannya. Berikut adalah niatnya;
Niat jamak takdim dan takhir.
Dzuhur dengan Asar
– Niat salat Dzuhur
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhadz dzuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil ashri jam’a takdim lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat Dzuhur empat raka’at menghadap kiblat, dijamak takdim dengan Asar karena Allah Ta’ala.”
– Niat salat Asar
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالظُّهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhal ashri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil dzuhri jam’a takdim lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat Asar empat raka’at menghadap kiblat, dijamak takdim dengan Dzuhur karena Allah Ta’ala.”
2) Maghrib dengan ‘Isya
– Niat salat maghrib
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالْعِشَاءِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhal Maghribi tsalasa raka’atin mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil ‘isya’i jam’a takdim lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat maghrib tiga raka’at menghadap kiblat, dijamak takdim dengan ‘Isya karena Allah Ta’ala.”
– Niat salat ‘Isya
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالْمَغْرِبِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhal ‘isya’i arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil maghribi jam’a takdim lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat ‘Isya empat raka’at menghadap kiblat, dijamak takdim dengan maghrib karena Allah Ta’ala.”
*Apabila ingin Ingin mengakhirkan salat dengan jamak Takhir, maka kalimah تَقْدِيْمٍ (takdim) dalam niat seperti yang ada di atas diganti menjadi تَأْخِيْرٍ (takhir).
Niat salat Qashar
Berikut adalah contoh niat qashar
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَصْرًا للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhadz dzuhri rak’ataini mustaqbilal qiblati, qashron lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat Dzuhur dua raka’at, menghadap qiblat dengan qashar karena Allah Ta’ala.”
** Salat yang boleh diqashar adalah salat Dzuhur, Ashar dan ‘Isya’.
Niat Salat Jamak Qashar
Contoh Jamak takhir qashar Dzuhur dengan Asar
– Niat salat Dzuhur
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكَعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرَا للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhadz dzuhri rak’ataini mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil ashri jam’a takhir qashro lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat Dzuhur dua raka’at menghadap kiblat, dijamak takhir qashar dengan Asar karena Allah Ta’ala.”
– Niat salat Asar
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ رَكَعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالظُّهْرِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرَا للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhal ‘ashri rak’ataini mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil dzuhri jam’a takhir qashro lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat Asar dua raka’at menghadap kiblat, dijamak tahkir qashar dengan Dzuhur karena Allah Ta’ala.”
Jamak takhir qashar maghrib dengan ‘isya
Niat salat Maghrib sebatas diniatkan sebagai niat Jamak takdim ataupun jamak takhir saja, karena yang boleh di jamak-qashar hanya ‘isya saja. Niatnya sebagai berikut:
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعِشَاءِ رَكَعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَجْمُوْعًا بِالْمَغْرِبِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرَا للهِ تَعَالَى
Ushallii fardhal ‘isya’i rak’ataini mustaqbilal qiblati, majmuu\’an bil maghribi jam’a takhir qashro lillaahi ta\’-aala.
“Sengaja aku salat ‘isya dua raka’at menghadap kiblat, dijamak takhir qashar dengan maghrib karena Allah Ta’ala.”
***Apabila Ingin mengawali salat dengan jamak Takdim, maka kalimah تَأْخِيْرٍ (takhir) dalam niat seperti yang ada di atas diganti menjadi تَقْدِيْمٍ (takdim).
Perbedaan antara salat sendiri, sebagai makmum ataupun imam setelah melihat keterangan diatas adalah ditandai dengan adanya perbedaan pada pelafalan niatnya. (1)fardhu atau sunnah; (2) nama salatnya; (3) jumlah rakaat atau takbirnya; (4) dan kondisi yang menjadi landasannya. Hal ini juga berlaku bagi salat lain.
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.64-68
Safiinatun Najaah Fi Ushulid Diini Wal Fiqhi / Salim Bin Sumair Al Hadhrami. Bab III. 23-25
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.