Surah ini terdiri dari 30 ayat, termasuk kelompok surah Makkiyah. Kata al-Fajr berarti ‘Fajar’, yang diambil dari ayat pertama. Surah ini merupakan wahyu yang ke-10, sebelum surah adh-Dhuha dan sesudah surah al-Fil.
Ayat-ayatnya berjumlah 30 ayat menurut cara perhitungan ulama Kufah dan Syam, dan 32 ayat menurut cara perhitungan ulama Mekah dan Madinah, karena ayat 15 mereka jadikan dua ayat yakni awalnya sampai kata wa na\’ammahu satu ayat, dan selebihnya satu ayat lagi sanjpai dengan akraman. Demikian juga ayat 16 mereka jadikan dua ayat, yang pertama sampai kata rizgahu lalu lanjutannya ayat berdiri sendiri sampai dengan ahanan.
Uraian utama surah ini adalah ancaman kepada kaum musyrikin Mekah, jangan sampai mengalami siksa yang telah dialami oleh para pendurhaka yang jauh lebih perkasa dari mereka. Sekaligus berita gembira serta pengukuhan hati Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam, dan kaum muslimin yang pada masa turunnya ayat-ayat surah ini masih tertindas oleh kaum musyrikin Mekah.
Surah ini menurut Thabathaba’I merupakan celaan kepada mereka yang memiliki ketergantungan sangat besar terhadap dunia sehingga menghasilkan kesewenangan dan kekufuran. Karena di dalam surah ini, dijelaskan pula bahwa Allah sangat murka kepada orang yang tidak peduli nasib anak yatim dan orang papa. Juga kepada yang memakan harta anak yatim dan mencintai dunia. Bahwa hati harus dijaga untuk istiqomah dan tidak mudah tergoda oleh nafsu.
Tema surah ini menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i adalah pembuktian tentang uraian akhir surah al-Ghasyiyah yakni kematian, serta hisab (pertanggungjawaban) manusia atas amal-amalnya. Bukti tentang tema utama surah ini diisyaratkan oleh namanya al-Fajr yakni terpancar saat subuh guna melahirkan kembali siang yang kemarin telah berlalu tanpa ada perubahan dalam dzatnya, demikian juga kebangkitan manusia dari kematian kecil yakni tidur dengan tersebamya cahaya siang agar manusia mencari sarana kehidupan untuk kemudian mengalami hisab yang menghasilkan ganjaran atau balasan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.s
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.