Framing: Memahami Konsep, Fungsi, dan Dampaknya dalam Komunikasi

artistic self portrait in car side mirror reflection
Photo by ISMAIL OUBOUH on Pexels.com

Dalam dunia komunikasi dan media massa, istilah “framing” sering kali muncul sebagai salah satu konsep kunci yang mempengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan diterima oleh publik. Secara umum, merujuk pada proses memberi makna tertentu terhadap sebuah isu atau informasi dengan menyoroti aspek-aspek tertentu sehingga mempengaruhi persepsi dan interpretasi audiens.

Definisi Framing

Berasal dari kata “frame” yang berarti bingkai. Dalam konteks komunikasi, digunakan segabai strategi atau kerangka kerja untuk menyusun pesan sehingga fokus utama tertentu dapat ditekankan, sementara aspek lain diabaikan atau diurangi. Dengan kata lain, framing adalah cara menyusun pesan yang memuat penekanan tertentu agar pesan tersebut lebih mudah dipahami dan memiliki pengaruh tertentu terhadap audiens.

Menurut Robert Entman (1993), framing adalah proses menyoroti sebagian aspek dari realitas dan menempatkannya dalam kerangka tertentu sehingga memberikan makna tertentu kepada audiens, yang terdiri dari tiga komponen utama:

  1. Komponten Problematika (Issue Selection)
  2. Komponten Interpretasi (Causal Analysis, Moral Evaluation, Prognosis)
  3. Komponten Penyelesaian (Call to Action)

Fungsi Framing dalam Komunikasi

Memiliki berbagai fungsi yang penting dalam membentuk opini dan persepsi publik:

  1. Memperjelas Pesan: Dengan menyoroti aspek tertentu, dapat membantu audiens memahami isu kompleks secara lebih sederhana dan fokus.
  2. Mengarahkan Perhatian: Menuntun perhatian audiens pada aspek tertentu dari isu, sehingga mempengaruhi interpretasi mereka.
  3. Membangun Opini dan Sikap: Pesan dapat diperkuat atau mengubah sikap dan persepsi terhadap suatu isu, tokoh, atau kebijakan.
  4. Mengendalikan Narasi: Memungkinkan pembuat pesan untuk mengontrol narasi dan mengarahkan diskursus publik sesuai dengan kepentingan tertentu.
  5. Membentuk Agenda Setting: Berperan dalam menentukan isu mana yang dianggap penting dan relevan oleh masyarakat.

Jenis-jenis Framing

Terdapat berbagai jenis yang dapat digunakan tergantung konteks dan tujuan komunikasi:

  • Konflik: Menyoroti aspek konflik dan pertentangan dalam isu tertentu.
  • Human Interest: Menonjolkan aspek emosional dan personal dari isu, sehingga lebih menyentuh hati audiens.
  • Ekonomi: Mengaitkan isu dengan aspek ekonomi, seperti biaya dan manfaat finansial.
  • Moral: Menekankan aspek moral dan etika dari isu.
  • Sosial: Menyoroti isu dari sudut sosial dan keberlanjutan masyarakat.
  • Manfaat : Menekankan aspek manfaat ataupun kerugiannya

Contoh Penerapan Framing dalam Media

Contoh nyata dapat ditemukan dalam pemberitaan media tentang isu lingkungan. Ketika media menyoroti kerusakan hutan, dapat difokuskan pada:

  • Kerugian Ekonomi: Menekankan dampak kerusakan terhadap ekonomi, seperti kehilangan sumber daya alam dan lapangan pekerjaan.
  • Kebangkitan Kesadaran Moral: Menonjolkan tanggung jawab moral manusia terhadap lingkungan.
  • Dampak Kesehatan: Mengaitkan kerusakan lingkungan dengan kesehatan masyarakat.

Pemilihan framing ini akan memengaruhi persepsi pembaca: apakah mereka akan melihat isu ini sebagai masalah ekonomi, etika moral, atau kesehatan masyarakat.

Pengaruh Framing terhadap Opini Publik

Hal ini memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan opini publik. Sebuah studi menunjukkan bahwa jika dilakukan dengan konsisten dan kuat dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap isu tertentu dalam jangka panjang. Misalnya, framing yang negatif terhadap kebijakan pemerintah dapat menimbulkan persepsi bahwa kebijakan tersebut merugikan rakyat, bahkan jika kenyataannya berbeda. Sebaliknya, framing positif dapat meningkatkan dukungan terhadap kebijakan tersebut.

Kritik terhadap Framing

Beberapa kritik utama meliputi:

  • Manipulasi dan Bias: Dapat digunakan untuk memanipulasi opini secara tidak objektif dan menimbulkan bias.
  • Mengabaikan Kompleksitas: Dengan menyoroti aspek tertentu,bisa mengabaikan aspek penting dari isu yang lebih kompleks.
  • Pengaruh terhadap Kebebasan Berpendapat: Penggunaan yang berlebihan dapat membatasi sudut pandang dan kebebasan berpendapat.

Kesimpulan
Framing adalah alat yang sangat efektif dalam dunia komunikasi dan media massa. Dengan memahami konsep dan fungsinya, penulis dan komunikator dapat menyusun pesan yang lebih terarah dan berpengaruh. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara etis dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan manipulasi atau distorsi terhadap fakta. Menguasai teknik framing adalah kunci untuk menyampaikan pesan yang tidak hanya informatif tetapi juga mampu memengaruhi dan membangun opini publik secara positif dan konstruktif.

Referensi

  • Entman, R. (1993). Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm. Journal of Communication, 43, 51-58.
  • Goffman, E. (1974). Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  • McCombs, M., & Shaw, D. (1972). The Agenda-Setting Function of Mass Media. Public Opinion Quarterly, 36, 176-187.

Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi dunia dan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top