Sifat wajib adalah segala hal yang menurut akal pasti adanya atau tidak dapat diterima ketiadaannya. Allah sebagai Tuhan, agar kita dapat mengimaninya dengan penuh keyakinan, maka secara akal kita perlu untuk mengenal-Nya terlebih dahulu.
Allah memiliki segala sifat yang sempurna dan jauh dari
kekurangan dan kita perlu meyakini bahwa tidak ada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan yang Esa. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada zat apapun juga yang dapat disetarakan dengan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala.
Segala yang ada di bumi baik yang hidup ataupun yang mati adalah makhluk di hadapan Allah. Dari keterangan ini, Allah tentu berbeda dengan makhluk, Setiap makhluk memiliki masa/umurnya masing masing, dari keadaan hidup ataupun mati, sehat hingga sakit – baik sampai rusak, bayi hingga dewasa – kecil sampai besar. Sedangkan Allah tidak memiliki fase perubahan tersebut.
Kita mempercayai Tuhan tentu mengharapkan Kebesaran dan Kebaikan-Nya ingin menjadikan sang Tuhan sebagai sandaran hidup. Apabila apa yang kita anggap tuhan memiliki sifat yang sama dengan makhluk yang dapat melakukan kesalahan dan mati, lantas apa bedanya dengan makhluk?
Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, setidaknya memiliki 20 sifat Wajib yang berbeda dengan makhluk, yaitu :
- Wujud (ada); sifat mustahil: ‘Adam (tidak ada)
- Qidam (telah ada sebelum adanya segala sesuatu); sifat mustahil: Huduts (baru)
- Baqa (kekal abadi tanpa akhir); sifat mustahil: Fana’ (binasa)
- Mukhalafatu Lil Hawaditsi (bertentangan dengan makhluk) secara mutlak; sifat mustahil: Mumatsalah Lilhawaditsi (sama dengan baru/menyerupai makhluk)
- Qiyamuhu Binafsihi (berdiri dengan sendiri tidak memerlukan bantuan sesiapa/Yang Maha Kaya dan Mampu); sifat mustahil: Ihtiyaj Ila Mahal wa Mukhashshash (Allah itu tidak berdiri sendiri)
- Wahdaniyah (Yang Maha Esa), satu-satunya dan tidak ada lainnya; sifat mustahil: Ta’addud (berjumlah)
- Qudrah (Berkuasa); sifat mustahil: ’Ajzun (lemah)
- Iradah (Berkehendak); sifat mustahil: Karahah (terpaksa)
- Ilmu (Berpengetahuan); sifat mustahil: Jahil (bodoh)
- Hayat (Hidup); sifat mustahil: Maut (mati)
- Sama’ (Mendengar); sifat mustahil: Shamam (tuli)
- Basar (Melihat); sifat mustahil: ’Ama (buta)
- Kalam (Bercakap) secara terus menerus; sifat mustahil: Bakam (bisu)
- Qadiran (Yang Maha Berkuasa); sifat mustahil: Kaunuhu ’Ajizan (keberadaan Allah lemah/tidak berkuasa)
- Muridan (Yang Maha Berkehendak); sifat mustahil: Kaunuhu Mukrahan (terpaksa)
- ‘Aliman (Yang Maha Mengetahui) segala sesuatu; sifat mustahil: Kaunuhu Jahilan (bodoh)
- Hayyan (Yang Maha Hidup tidak akan mati); sifat mustahil: Kaunuhu Mayyitan (mati)
- Sami’an (Yang Maha Mendengar); sifat mustahil: Kaunuhu Ashamma (tuli)
- Bashiran (Yang Maha Melihat); sifat mustahil: Kaunuhu A’ma (buta)
- Mutakalliman (Maha Berbicara); sifat mustahil: Kaunuhu Abkama (bisu)
Perlu kita ketahui bahwa 20 sifat wajib Allah diatas, itu tidak membatasi kesempurnaan Allah, yang tidak mampu diketahui oleh manusia secara menyeluruh.
Allah juga memiliki sifat jaiz. Sifat jaiz itu adalah fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu, yaitu melakukan segala sesuatu yang mungkin atau meninggalkannya. Artinya Allah memiliki hak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tidak ada paksaan bagi Allah di dalam melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama : Aqîdatul ‘Awâm / al-Imam al-‘Allâmah Ahmad bin Muhammad Ramadhân bin Manshûr al-Makki al-Marzûki al-Mâliki al-Husaini al-Hasan (Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki Al-Makki)
Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam / Syekh Nawawi al-Bantani
dan berbagai sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.