
Dalam perjalanan hidup seorang muslim, berdakwah dengan ikhlas dan sabar merupakan salah satu kewajiban yang mulia dan penuh tanggung jawab. Dakwah bukan hanya sekadar menyampaikan kalimat atau ajaran agama, tetapi juga menyalakan cahaya keimanan dalam hati orang lain, sekaligus memperbaiki diri sendiri. Kemudian, agar dakwah benar-benar bermakna dan membawa keberkahan, diperlukan niat yang ikhlas dan sabar.
Tanpa keikhlasan dan kesabaran, dakwah hanyalah sebatas formalitas, bahkan bisa berbalik menjadi fitnah dan menjauhkan diri dari keridaan Allah.
Pengertian Berdakwah dengan Ikhlas dan Sabar
Dalam bahasa Arab ditulis إِخْلَاص (Ikhlāṣ), yang berasal dari akar kata kha-la-sha (خَلَصَ) bermakna bersih, murni, atau jernih tanpa campuran. Secara istilah, ikhlas berarti melakukan ibadah atau amal kebaikan hanya untuk Allah, tulus, dan memurnikan niat. Dalam konteks berdakwah dengan ikhlas berarti menyampaikan kebenaran karena Allah semata, tanpa mengharapkan pujian, rasa hormat, balasan, atau keuntungan duniawi secara berlebihan. Berbuat ikhlas adalah bentuk penghambaan diri kepada Allah yang tulus dan murni.
Tentunya dalam berdakwah juga pasti memiliki tantangan tersendiri. Seperti tidak ditanggapi, tidak didengar, dicemooh dan dihina karena dianggap sok suci oleh orang lain, ataupun karena diri sendiri merasa lelah mental, lelah fisik dan lainnya. Sehingga membutuhkan rasa sabar yang ekstra.
Hal ini termaktub dalam al-Qur’an surah Al-Muddassir 74;1-7:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ ١ قُمْ فَأَنذِرْ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ٤ وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ ٥ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصْبِرْ ٧
yâ ayyuhal-muddatstsir (1) qum fa andzir (2) wa rabbaka fa kabbir (3) wa tsiyâbaka fa thahhir (4) war-rujza fahjur (5) wa lâ tamnun tastaktsir (6) wa lirabbika fashbir (7)
Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad),(1) bangunlah, lalu berilah peringatan!(2) Tuhanmu, agungkanlah!(3) Pakaianmu, bersihkanlah!(4) Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah!(5) Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!(6) Karena Tuhanmu, bersabarlah!(7)
Surat Al-Muddassir ayat 1-7 adalah wahyu kedua yang turun setelah jeda wahyu pertama, menegaskan tugas Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam, sebagai rasul untuk berdakwah. Ayat ini memerintahkan Nabi untuk bangun dari selimut, memberi peringatan, mengagungkan Allah, menyucikan diri, menjauhi maksiat, ikhlas, dan bersabar dalam perjuangan dakwah.
Mengapa Berdakwah dengan Ikhlas dan Sabar Sangat Penting?
- Mengajak ke Jalan yang Diridai Allah
Agama yang diridai Allah adalah agama Islam. Dakwah mengajak manusia untuk mengesakan Allah, melepaskan diri dari syirik, menegakkan kebenaran, memerintahkan ketaatan, dan mencegah kemaksiatan serta segala bentuk kerusakan di bumi. - Membangun Keimanan dan Ketakwaan untuk Diri Sendiri dan Orang lain
Berdakwah dengan ikhlas dan sabar adalah bentuk upaya untuk memperkuat iman dan ketakwaan diri kita pribadi dan orang lain. Dengan niat yang tulus, hati menjadi terasa lebih tenang, dan dekat dengan Allah. - Mendapatkan Keberkahan dan Pahala
Amal yang dilandasi ikhlas dan sabar akan mendapatkan ganjaran dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Cara Menjaga Keikhlasan dan Kesabaran
- Memperbanyak Dzikir dan Doa
Memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk berdakwah dengan ikhlas dan sabar. - Mengingat Akhirat dan Allah sebagai Tujuan Utama
Selalu ingat bahwa amal kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Tujuan utama adalah untuk mendapatkan rida-Nya. - Menanamkan Niat yang Tulus dari Awal
Sebelum berbuat sesuatu, perkuat niat bahwa semua dilakukan semata-mata karena Allah. - Menghindari Riya, Mengharap Imbalan Lebih dan Lelah Fisik serta Mental
Berusaha menjaga hati agar tidak terpengaruh oleh orang lain. Tetap semangat, rendah hati dan selalu introspeksi diri. - Belajar dari Teladan Nabi dan Para Saleh
Meneladani para nabi dan orang-orang saleh yang senantiasa berdakwah dengan ikhlas dan sabar.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Orang yang Berdakwah dengan Ikhlas dan Sabar
Para Dai, Ustadz atau Guru Ngaji dan Ulama adalah para pendakwah yang ada di sekitar kita. Mereka memang dianjurkan untuk berdakwah dengan ikhlas dan sabar, akan tetapi kita sebagai masyarakat awam juga perlu untuk berterimakasih. Jangan sampai menjadi orang yang tidak tahu diri. Mengapa? karena para Dai, Ustadz atau Guru Ngaji dan Ulama juga manusia, mereka juga butuh makan dan beraktifitas lainnya seperti manusia pada umumnya.
Kadang kita berani menggaji guru les dengan nominal yang tinggi untuk memberikan anak les matematika dan les bahasa. Kadang kita juga berani membayar dengan biaya mahal untuk kesehatan hewan peliharaan. Lantas mengapa kita tidak bisa memberikan penghormatan yang lebih tinggi kepada guru ngaji? Padahal les dan kesehatan hewan hanya masalah dunia yang sementara, sedangkan ilmu agama untuk selamanya. Apakah anda ingin menyamakan kelamatan hewan dengan keselamatan diri di akhirat?
Kesimpulan
Berdakwah dengan ikhlas dan sabar adalah bentuk kemuliaan hati dan bentuk penghambaan kepada Allah. Meskipun jalan ini penuh tantangan, dengan niat yang tulus, usaha terus-menerus, yang disertai rasa sabar dan ikhlas, insya Allah kita mampu menjalani kehidupan yang penuh keberkahan dan mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah. Mari kita tingkatkan keikhlasan dalam setiap langkah, karena sesungguhnya, amal yang dilakukan dengan tulus akan membawa kedamaian dan keberkahan yang hakiki dalam hidup kita.
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.