
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terjebak dalam keinginan duniawi yang memikat. Namun, apakah kita sadar bahwa terlalu cinta pada harta dan anak dapat membuat kita lalai dari akhirat?
Artikel ini akan membahas larangan terlalu cinta pada harta dan anak dapat mengalihkan perhatian dari kehidupan akhirat, sekaligus memberikan panduan agar kita tetap seimbang dan istiqomah.
Mengapa Terlalu Cinta pada Harta dan Anak Berbahaya?
Terlalu cinta pada harta dan anak, sering kali membuat hati lupa akan tujuan yang sesungguhnya yaitu akhirat. Seperti yang termaktub dalam al-Qur’an surah Al-Munafiqun 63;9
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tul-hikum amwâlukum wa lâ aulâdukum ‘an dzikrillâh, wa may yaf‘al dzâlika fa ulâ’ika humul-khâsirûn
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.
Ini menunjukkan bahwa harta dan anak bisa menjadi ujian dan godaan yang menyesatkan jika tidak diimbangi dengan keimanan dan amal saleh.
Harta dan Anak adalah Amanah
Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab amina – ya`manu – amanatan yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Secara terminologis, menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga. Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya.
Harta adalah amanah dari Allah agar kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin untuk menegakkan agama Allah. Seperti dalam menjalankan Ibadah, tentu kita membutuhkan kain untuk menutupi aurat sebagai syarat sah salat, membeli makan untuk berbuka puasa, membayar air pdam untuk wudhu atau mempersiapkan dana berangkat haji dan umrah. Kemudian membayar zakat, serta bersedekah kepada orang yang membutuhkan.
Sedangkan dalam konteks anak, amanah berarti bahwa orang tua dan seluruh keluarga memegang kepercayaan dari Allah untuk mendidik, melindungi, dan memastikan anak berkembang dengan baik secara fisik, mental, dan spiritual. Mereka tidak hanya sebagai penanggung jawab secara materi, tetapi juga secara moral dan akhlak agar menjadi anak yang saleh yang dapat melanjutkan estafet keislaman pada generasi selanjutnya.
Namun, karena terlalu cinta pada harta dan anak, terkadang kita mejadi pelit dalam mengelola harta serta menuruti segala kemauan anak dengan menggunakan harta tersebut. Sehingga lupa mendidik anak agar dapat menjadi anak yang saleh, yang justru malah dapat menarik kita ke neraka.
Dampak Terlalu Cinta pada Harta dan Anak
- Mengabaikan Kewajiban Spiritual
Terlalu Cinta pada Harta dan Anak terkadang membuat seseorang lupa akan kewajiban ibadah dan amal saleh. Padahal, ibadah adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keselamatan di akhirat kelak. - Meninggalkan Amal Saleh
Kesibukan mengejar kekayaan dan mengurus anak bisa membuat seseorang lalai dari ibadah wajib dan sunnah. Seperti salat 5 waktu, puasa, zakat, sedekah, dan berbuat kebaikan kepada sesama. - Hati Terikat pada Dunia
Mengejar harta membuat hati tertanam kuat pada dunia. Sehingga, hati menjadi resah dan tidak tenang karena takut kehilangan. Ini menunjukkan ketergantungan berlebihan yang harus dihindari. - Membuat Prioritas yang Salah
Mengutamakan dunia di atas akhirat akan menjauhkan kita dari tujuan hidup yang sesungguhnya. Padahal, kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat kekal selamanya.
Tips Menjaga Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat
- Berbuat Amal Saleh Secara Konsisten
Jaga ibadah dan amal kebaikan sebagai prioritas utama dalam hidup. - Mendidik Anak Dengan Baik
Ajarkan anak ilmu agama, memberi tuntunan dalam ibadah dan mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama manusia. - Mengingatkan Diri akan Kematian dan Kehidupan Akhirat
Selalu ingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, dan akhirat adalah tempat kekekalan. - Menghindari Riya dan Ujub
Lakukan amal ikhlas karena Allah, bukan untuk pamer atau mendapatkan pujian. - Berdoa Memohon Petunjuk dan Keseimbangan
Meminta kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menjalani hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Kesimpulan
Terlalu cinta pada harta dan anak dapat mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama hidup, yaitu mendapatkan rida Allah dan kebahagiaan di akhirat. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita harus mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat dengan selalu mengingat Allah, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena dengan keindahan dunia yang fana. Dengan demikian, hidup kita akan penuh berkah dan diridai oleh Allah.
Jangan Lupa: Tetap jaga iman dan amal saleh, agar dunia yang bersifat sementara ini tidak membuat kita lalai dari akhirat yang kekal abadi.
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.