Candaan Mokel: Membagikan Keburukan di Media Sosial saat Puasa

brown monkey
Photo by Atlantic Ambience on Pexels.com

Dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi platform utama untuk berbagi cerita, pengalaman, dan pendapat. Namun, tidak jarang kita melihat fenomena yang sedang tren, yaitu mokel—sebuah candaan batal puasa di media sosial yang pasti ada setiap bulan puasa. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: Apa dampaknya bagi dan kesehatan mental kita?

Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai bahaya mokel, alasan mengapa orang melakukannya, serta bagaimana cara menghindari dampak negatifnya.

Apa Itu Mokel?

Mokel adalah istilah bahasa gaul yang berarti membatalkan puasa secara sengaja sebelum waktunya (makan/minum di siang bolong). Seringkali mokel dilakukan diam-diam, namun tetap berlagak lemas di depan orang lain. Istilah ini populer di bulan Ramadan untuk menyebut orang yang batal puasa tanpa uzur.yang dapat dibenarkan secara syar’i.

Istilah lain yang serupa ialah Godin (buka puasa sembunyi-sembunyi), budim (buka diam-diam), mokah (batal puasa) dan lainnya. Dalam Islam, membatalkan puasa sengaja tanpa alasan yang sah (uzur syar’i) adalah perbuatan tercela/dosa.

Biasanya, orang membagikan mokel sebagai bentuk candaan untuk mencari perhatian (views). Meski terlihat jujur, kebiasaan ini bisa berakibat buruk bagi kesehatan mental kita di dunia maya.

Mengapa Orang Melakukan Mokel di Media Sosial?

  1. Mencari Perhatian dan Pengakuan
    Banyak orang merasa kurang dihargai atau kurang mendapat perhatian di dunia nyata, sehingga mereka mencari perhatian dengan membagikan cerita negatif.
  2. Mencerminkan Kejujuran dan Autentisitas
    Beberapa orang percaya bahwa kejujuran tentang kekurangan diri bisa membuat mereka terlihat lebih manusiawi dan dekat dengan followers.
  3. Melampiaskan Perasaan Negatif
    Media sosial sering digunakan sebagai tempat pelampiasan emosi, termasuk membagikan kekurangan dan kegagalan pribadi.
  4. Mengikuti Tren atau Fenomena Viral
    Fenomena mokel sering kali dipopulerkan oleh influencer atau pengguna media sosial yang ingin mendapatkan engagement tinggi.

Dampak Negatif Membagikan Keburukan di Media Sosial

Walaupun terlihat jujur, kebiasaan ini memiliki berbagai risiko yang perlu diperhatikan, seperti:

  • Penurunan Reputasi Digital
    Kebiasaan membagikan keburukan diri secara berlebihan dapat membuat orang lain menilai Anda sebagai pribadi yang tidak stabil atau kurang percaya diri, cringe karena selalu ingin mencari perhatian orang.
  • Kesulitan Mendapatkan Peluang Karir
    Banyak perusahaan memperhatikan citra online. Kebiasaan membagikan keburukan di media sosial bisa mengurangi peluang mendapatkan pekerjaan atau promosi.
  • Dampak Psikologis
    Membagikan secara terus-menerus dapat memperburuk kesehatan mental, seperti: Merasa sombong karena memiliki banyak followers. Merasa paling benar sendiri dan tidak mau dikritik dengan alasan “ini kan hanya candaaan saja, jangan serius-serius amat”.
  • Mempopulerkan keburukan akan dihisab dengan sangat berat
    Allah akan menghisab setiap perbuatan kita di Akhirat kelak. Dengan mempopulerkan keburukan di medsos, bisa saja orang yang melihat akan mengikuti keburukan tersebut. Serta kelak, keburukan akan dianggap normal sehingga mental masyarakat secara perlahan akan semakin rusak. Maka dosa orang yang mengikuti keburukan tersebut akan ikut dihitung sebagai dosa dari sang pelopor keburukan.
Tips Menghindari Dampak Negatif dari Mokel di Media Sosial

Agar tetap bisa jujur tanpa merugikan diri sendiri, berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan:

  1. Fokus pada Pesan Positif
    Bagikan pengalaman yang membangun dan inspiratif.
  2. Batasi Pembagian Keburukan Diri
    Pilih waktu dan tempat yang tepat untuk membagikan kekurangan diri, pilih orang yang dapat dipercaya dan dapat memberi nasihat agar kita menjadi lebih baik.
  3. Pahami Dampaknya
    Ingat bahwa apa yang Anda bagikan di media sosial bisa menjadi catatan jangka panjang dan mempengaruhi citra diri.
  4. Jaga Privasi dan Hormati Diri Sendiri
    Jangan terlalu terbuka tentang hal-hal pribadi yang dapat merugikan Anda di masa depan.
  5. Bangun Kepercayaan Diri Secara Sehat
    Fokus pada peningkatan diri secara fisik dan mental
  6. Taubat dan perbanyak ibadah
    setelah kita tahu dampak negatifnya, alangkah baiknya kita menghapus video keburukan yang kita buat dan bertaubat kepada Allah, serta memperbanyak ibadah.

Kesimpulan

Mokel —sebuah candaan batal puasa di media sosial memang tren yang sedang berkembang, tetapi perlu diingat bahwa kebiasaan ini memiliki konsekuensi serius terhadap reputasi dan kesehatan mental. Sebaiknya, gunakan media sosial sebagai alat untuk berbagi hal-hal positif dan membangun diri, bukan sebagai panggung untuk menampilkan kekurangan secara berlebihan. Dengan bijak dalam mengelola konten, Anda dapat menjaga citra diri yang baik sekaligus mendapatkan manfaat dari dunia maya.


Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top