
Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul Fussilat 41;22
Fussilat 41;22
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ اَنْ يَّشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَآ اَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُوْدُكُمْ وَلٰكِنْ ظَنَنْتُمْ اَنَّ اللّٰهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ ٢٢
wa mâ kuntum tastatirûna ay yasy-hada ‘alaikum sam‘ukum wa lâ abshârukum wa lâ julûdukum wa lâkin dhanantum annallâha lâ ya‘lamu katsîram mimmâ ta‘malûn
Kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.
*Ini merupakan peringatan bagi setiap orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi karena menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka serta pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka tidak akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.
Asbabun Nuzul Fussilat 41;22
Ayat ini turun berkenaan dua orang dari suku Quraisy dan satu orang dari Bani Šaqif yang berdiskusi di Baitullah tentang pendengaran Allah.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ أَبِي، مَعْمَرٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ اجْتَمَعَ عِنْدَ الْبَيْتِ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ قُرَشِيَّانِ وَثَقَفِيٌّ أَوْ ثَقَفِيَّانِ وَقُرَشِيٌّ قَلِيلٌ فِقْهُ قُلُوبِهِمْ كَثِيرٌ شَحْمُ بُطُونِهِمْ فَقَالَ أَحَدُهُمْ أَتَرَوْنَ اللَّهَ يَسْمَعُ مَا نَقُولُ وَقَالَ الآخَرُ يَسْمَعُ إِنْ جَهَرْنَا وَلاَ يَسْمَعُ إِنْ أَخْفَيْنَا وَقَالَ الآخَرُ إِنْ كَانَ يَسْمَعُ إِذَا جَهَرْنَا فَهُوَ يَسْمَعُ إِذَا أَخْفَيْنَا . فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ} الآيَةَ .
‘Abdullàh bin Mas‘ùd berkata, “Ada tiga orang, dua di antaranya dari suku Quraisy dan yang lainnya dari Bani Šaqif, atau sebaliknya—perawi ragu. Pemahaman agama mereka masih dangkal dan perut mereka tampak buncit penuh lemak. Seorang dari mereka membuka percakapan dengan mengajukan pertanyaan, ‘Menurut kalian, mampukah Allah mendengar percakapan kita?’ Temannya menjawab, ‘Dia mampu mendengar bila kita bercakap-cakap dengan suara lantang, dan tidak mampu bila sebaliknya.’ ‘Andaikata Dia mampu mendengar saat kita bercakap-cakap dengan suara lantang, tentu saja Dia mampu mendengar saat kita bercakap-cakap dengan suara lirih,’ sergah pria satunya lagi. Allah lalu menurunkan firman- Nya, wamà kuntum tastatirùna an yasyhada ‘alaikum sam‘ukum walà absàrukum walà julùdukum … hingga akhir ayat.”
Hadis ini mirip dengan hadis sahih Bukhari 7521
Sumber Data Asbabun Nuzul Fussilat 41;22
Data ini berasal dari hadis sahih Muslim 2775. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017
dan beberapa buku lainnya,-
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.