
Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8
Al-Munafiqun 63;1-8
اِذَا جَاۤءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِۘ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ ١
اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٢
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ اٰمَنُوْا ثُمَّ كَفَرُوْا فَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ ٣
وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَامُهُمْۗ وَاِنْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْۗ كَاَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌۗ يَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْۗ قَاتَلَهُمُ اللّٰهُۖ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ ٤
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ لَوَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَرَاَيْتَهُمْ يَصُدُّوْنَ وَهُمْ مُّسْتَكْبِرُوْنَ ٥
سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ اَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ اَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْۗ لَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ٦
هُمُ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لَا تُنْفِقُوْا عَلٰى مَنْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ حَتّٰى يَنْفَضُّوْاۗ وَلِلّٰهِ خَزَاۤىِٕنُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَفْقَهُوْنَ ٧
يَقُوْلُوْنَ لَىِٕنْ رَّجَعْنَآ اِلَى الْمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْاَعَزُّ مِنْهَا الْاَذَلَّۗ وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَࣖ ٨
idzâ jâ’akal munâfiqûna qâlû nasy-hadu innaka larasûlullâh, wallâhu ya‘lamu innaka larasûluh, wallâhu yasy-hadu innal-munâfiqîna lakâdzibûn (1) ittakhadzû aimânahum junnatan fa shaddû ‘an sabîlillâh, innahum sâ’a mâ kânû ya‘malûn (2) dzâlika bi’annahum âmanû tsumma kafarû fa thubi‘a ‘alâ qulûbihim fa hum lâ yafqahûn (3) wa idzâ ra’aitahum tu‘jibuka ajsâmuhum, wa iy yaqûlû tasma‘ liqaulihim, ka’annahum khusyubum musannadah, yaḫsabûna kulla shaiḫatin ‘alaihim, humul-‘aduwwu faḫdzar-hum, qâtalahumullâhu annâ yu’fakûn (4)
wa idzâ qîla lahum ta‘âlau yastaghfir lakum rasûlullâhi lawwau ru’ûsahum wa ra’aitahum yashuddûna wa hum mustakbirûn (5) sawâ’un ‘alaihim astaghfarta lahum am lam tastaghfir lahum, lay yaghfirallâhu lahum, innallâha lâ yahdil-qaumal-fâsiqîn (6) humulladzîna yaqûlûna lâ tunfiqû ‘alâ man ‘inda rasûlillâhi ḫattâ yanfadldlû, wa lillâhi khazâ’inus-samâwâti wal-ardli wa lâkinnal-munâfiqîna lâ yafqahûn (7) yaqûlûna la’ir raja‘nâ ilal-madînati layukhrijannal-a‘azzu min-hal-adzall, wa lillâhil-‘izzatu wa lirasûlihî wa lil-mu’minîna wa lâkinnal-munâfiqîna lâ ya‘lamûn (8)
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar para pendusta. (1) Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai* lalu mereka menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah. Sesungguhnya apa yang selalu mereka kerjakan itu sangatlah buruk. (2)
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian kufur. Maka, hati mereka dikunci sehingga tidak dapat mengerti. (3) Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar.** Mereka mengira bahwa setiap teriakan (kutukan) ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)? (4)
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman) agar Rasulullah memohonkan ampunan bagimu,” mereka membuang muka dan engkau melihat mereka menolak (ajakan itu) sambil menyombongkan diri. (5) Sama saja bagi mereka apakah engkau (Nabi Muhammad) memohonkan ampunan untuk mereka atau tidak, Allah tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum fasik. (6)
Merekalah orang-orang yang berkata (kepada kaum Ansar), “Janganlah bersedekah kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah),” padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengerti. (7) Mereka berkata, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (dari perang Bani Mustaliq), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana,” padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui. (8)
* Mereka bersumpah telah beriman agar tidak ditawan atau dibunuh dan harta mereka tidak dirampas.
** Orang-orang munafik bagaikan seonggok kayu yang tersandar tanpa daya hidup, tanpa pijakan yang kukuh, dan tanpa buah yang bisa dimanfaatkan.
Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8
Ayat-ayat di atas turun tentang Zaid bin Arqam. Ia melaporkan kepada Nabi tentang perkataan-perkataan kaum munafik (‘Abdullàh bin Ubay) yang bertujuan melemahkan dan menghina kaum muslim. Ketika Nabi meminta klarifikasi, mereka tidak mengaku dan balik menuduh Zaid berbohong.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، قَالَ كُنْتُ فِي غَزَاةٍ فَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَىٍّ، يَقُولُ لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِهِ وَلَوْ رَجَعْنَا مِنْ عِنْدِهِ لَيُخْرِجَنَّ الأَعَزُّ مِنْهَا. الأَذَلَّ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمِّي أَوْ لِعُمَرَ فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَدَعَانِي فَحَدَّثْتُهُ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَىٍّ وَأَصْحَابِهِ فَحَلَفُوا مَا قَالُوا فَكَذَّبَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَصَدَّقَهُ فَأَصَابَنِي هَمٌّ لَمْ يُصِبْنِي مِثْلُهُ قَطُّ، فَجَلَسْتُ فِي الْبَيْتِ فَقَالَ لِي عَمِّي مَا أَرَدْتَ إِلَى أَنْ كَذَّبَكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَمَقَتَكَ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ} فَبَعَثَ إِلَىَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَرَأَ فَقَالَ ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ صَدَّقَكَ يَا زَيْدُ ”.
Zaid bin Arqam radiyallàhu ‘anhu berkata “Ketika tengah berjalan bersama pamanku, aku mendengar ‘Abdullah bin Ubay bin Salùl berkata (kepada kaum Ansar), ‘Janganlah kalian bersedekah kepada orang-orang Muhajirin di sisi Rasulullah, kecuali jika mereka mau meninggalkannya.’ Ia juga berkata, ‘Jika nanti kita kembali ke Madinah (dari Perang Bani al- Mustaliq), pasti orang yang kuat (yakni: kaum munafik) akan mengusir orang-orang yang lemah (yakni kaum mukmin).’
Aku ceritakan hal itu kepada pamanku, dan pamanku menceritakannya kepada Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam. Usai mendengar laporan tersebut beliau mengutus seorang sahabat untuk menanyakan kebenarannya. Ternyata mereka tidak mengaku; mereka bersumpah tidak pernah mengatakan hal itu. Sayangnya, Rasulullah mempercayai mereka dan menganggapku berbohong. Itu membuatku sedih luar biasa. Aku belum pernah merasa sesedih itu.
Karena kejadian itu pula aku mengurung diri di rumah sekian lama, sampai Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat, ižà jà’akal-munàfiqùna … hingga firman-Nya, humul-lažìna yaqùlùna là tunfiqù ‘alà man ‘inda rasùlillàhi … hingga firman-Nya, layukhrijannal-a‘azzu minhal-ažall. Setelah ayat ini turun Rasulullah mengutus seorang sahabat untuk mengajakku menemui beliau. Beliau lalu membaca ayat ini di hadapanku. Beliau bersabda, ‘Allah telah membenarkan laporanmu, wahai Zaid.’”
Hadis ini mirip dengan hadis sahih Bukhari 4901, 4902, 4903, 4904 dan Muslim 2772
Sumber Data Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8
Data ini berasal dari hadis sahih Bukhari 4900, yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017
hadits.id, quran.com, sunnah.com
Al-Qur’an Kemenag 2019
dan beberapa buku lainnya,-
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8 Asbabun Nuzul Al-Munafiqun 63;1-8
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.