
Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul Al-Fath 48;1
Al-Fath 48;1
اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ ١
innâ fataḫnâ laka fat-ḫam mubînâ
Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata
Asbabun Nuzul Al-Fath 48;1
Mulanya ‘Umar merasa kecewa dengan keputusan Nabi menyepakati Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum kafir Mekah. Ia ingin agar umat Islam menyerang mereka. Ayat ini kemudian turun untuk menjanjikan kemenangan bagi umat Islam di masa mendatang.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ أَبِيهِ، حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو وَائِلٍ، قَالَ كُنَّا بِصِفِّينَ فَقَامَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ فَإِنَّا كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَلَوْ نَرَى قِتَالاً لَقَاتَلْنَا، فَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى الْبَاطِلِ فَقَالَ ” بَلَى ”. فَقَالَ أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِي النَّارِ قَالَ ” بَلَى ”. قَالَ فَعَلَى مَا نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا أَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ ” ابْنَ الْخَطَّابِ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَنْ يُضَيِّعَنِي اللَّهُ أَبَدًا ”. فَانْطَلَقَ عُمَرُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا. فَنَزَلَتْ سُورَةُ الْفَتْحِ، فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عُمَرَ إِلَى آخِرِهَا. فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَفَتْحٌ هُوَ قَالَ ” نَعَمْ ”.
Abù Wà’il bercerita, “Ketika Perang Siffin terjadi, Sahl bin Hunaif berdiri dan menyeru, ‘Wahai manusia, tabahkanlah diri kalian (dalam menerima keputusan ini, yakni keputusan ‘Aliy menerima ajakan damai dari kubu Mu‘àwiyah. Mudah-mudahan keputusan ini membawa maslahat di masa mendatang). Dahulu kami menyertai Rasulullah Sallallàhu ‘alaihi wasallam pada Perjanjian Hudaibiyah. Andaikata hari itu kami menganggap peperangan sebagai jalan terbaik, tentu kami akan melakukannya,
hingga datanglah ‘Umar bin al-Khattàb dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah apa yang kita yakini (Islam) adalah suatu kebenaran dan apa yang mereka yakini adalah kebatilan?’ ‘Benar,’ jawab beliau. Ia bertanya lagi, ‘Bila gugur di medan perang, bukankah kita akan masuk surga dan mereka akan masuk neraka?’ ‘Benar,’ jawab Nabi. Ia bertanya, ‘Jika demikian, mengapa kita mesti menghinakan agama kita? Haruskah kita pulang (ke Madinah) padahal Allah belum memberikan keputusan terkait kita dan mereka?’
Beliau menjawab, ‘Wahai putra al-Khattàb, aku adalah utusan Allah, dan Dia tidak akan pernah sedikit pun menyia-nyiakanku.’ Tidak puas dengan jawaban Nabi, ‘Umar lalu menghampiri Abù Bakr dan mengatakan apa yang dikatakannya kepada Nabi. Abù Bakr pun menjawab, ‘Beliau adalah utusan Allah, dan Allah tidak akan pernah sedikit pun menyia-nyiakannya.’ Tidak lama kemudian turunlah Surah al-Fath. Rasulullah lalu membacanya di hadapan ‘Umar hingga akhir surah. Ia pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ini pertanda kita akan mendapat kemenangan?’ ‘Ya,’ jawab beliau.”
Hadis ini mirip dengan hadis sahih Muslim 1785
Sumber Data Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul Al-Fath 48;1
Data ini berasal dari hadis sahih Bukhari 3182. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017
dan beberapa buku lainnya,-
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.