
Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul Ad-Dukhan 44;10-16
Ad-Dukhan 44;10-16
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى السَّمَاۤءُ بِدُخَانٍ مُّبِيْنٍ ١٠
يَغْشَى النَّاسَۗ هٰذَا عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١١
رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ اِنَّا مُؤْمِنُوْنَ ١٢
اَنّٰى لَهُمُ الذِّكْرٰى وَقَدْ جَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌ مُّبِيْنٌۙ ١٣
ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوْا مُعَلَّمٌ مَّجْنُوْنٌۘ ١٤
اِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيْلًا اِنَّكُمْ عَاۤىِٕدُوْنَۘ ١٥
يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرٰىۚ اِنَّا مُنْتَقِمُوْنَ ١٦
fartaqib yauma ta’tis-samâ’u bidukhânim mubîn (10) yaghsyan-nâs, hâdzâ ‘adzâbun alîm (11) rabbanaksyif ‘annal-‘adzâba innâ mu’minûn (12) annâ lahumudz-dzikrâ wa qad jâ’ahum rasûlum mubîn (13) tsumma tawallau ‘an-hu wa qâlû mu‘allamum majnûn (14) innâ kâsyiful-‘adzâbi qalîlan innakum ‘â’idûn (15) yauma nabthisyul-bathsyatal-kubrâ, innâ muntaqimûn (16)
Maka, nantikanlah hari (ketika) langit mendatangkan kabut asap yang tampak jelas* (10) (yang) meliputi manusia (durhaka). Ini adalah azab yang sangat pedih. (11) (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang mukmin.” (12) Bagaimana mereka dapat menerima peringatan (setelah turun azab), padahal (sebelumnya) seorang Rasul (Nabi Muhammad) benar-benar telah datang kepada mereka (untuk) memberi penjelasan. (13) Kemudian, mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia (Nabi Muhammad) diajari (oleh orang lain) lagi gila.” **(14) Sesungguhnya (kalau) Kami melenyapkan azab itu sebentar saja, pasti kamu akan kembali (ingkar). (15) (Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang besar.685) Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan. (16)
*Maksudnya adalah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy akibat menentang Nabi Muhammad
** Nabi Muhammad dituduh menerima pelajaran dari Addas, seorang non-Arab yang beragama Nasrani.
*** Hantaman yang besar itu terjadi pada Perang Badar ketika orang-orang musyrik dipukul mundur sehingga menderita kekalahan dan banyak di antara pemimpin mereka yang tewas.
Asbabun Nuzul Ad-Dukhan 44;10-16
Kaum Quraisy mengalami paceklik dan kelaparan sekian lama akibat menentang dakwah Rasulullah. Begitu hebat kelaparan itu menimpa hingga pandangan mereka gelap, seolah ada asap di depan mata mereka. Ayat di atas turun berkaitan dengan peristiwa tersebut
حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مُسْلِمٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ هَذَا لأَنَّ قُرَيْشًا لَمَّا اسْتَعْصَوْا عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم دَعَا عَلَيْهِمْ بِسِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ، فَأَصَابَهُمْ قَحْطٌ وَجَهْدٌ حَتَّى أَكَلُوا الْعِظَامَ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ مِنَ الْجَهْدِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ * يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ} قَالَ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَسْقِ اللَّهَ لِمُضَرَ، فَإِنَّهَا قَدْ هَلَكَتْ. قَالَ ” لِمُضَرَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ ”. فَاسْتَسْقَى فَسُقُوا. فَنَزَلَتْ {إِنَّكُمْ عَائِدُونَ} فَلَمَّا أَصَابَتْهُمُ الرَّفَاهِيَةُ عَادُوا إِلَى حَالِهِمْ حِينَ أَصَابَتْهُمُ الرَّفَاهِيَةُ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ} قَالَ يَعْنِي يَوْمَ بَدْرٍ.
‘Abdullàh bin Mas‘ùd berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan kaum Quraisy ketika mereka mendurhakai Nabi sallallàhu ‘alaihi wasallam. Beliau berdoa agar mereka ditimpa kelaparan dan paceklik seperti halnya kejadian yang menimpa kaum Nabi Yusuf. Benar saja; mereka pun mengalami paceklik dan penderitaan hingga terpaksa memakan tulang belulang.
Kejadian itu sangat luar biasa, sampai-sampai ketika seseorang di antara mereka menengadah, yang ia dapati hanyalah asap yang menghalangi pandangannya ke arah langit. Maka Allah lalu menurunkan ayat, fartaqib yauma ta’tis-samà’u bidukhànim-mubìnin yagsyan-nàsa hàžà ‘ažàbun alìm. Seorang pria (menurut riwayat ia adalah Abù Sufyàn, sesepuh kaum Mudar) kemudian menghadap Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai utusan Allah, kami mohon engkau berkenan meminta hujan kepada Allah untuk kaum Mudar. Mereka sangat menderita—akibat paceklik ini.’ ‘Untuk kaum Mudar? Betapa lancang dirimu!’ jawab Nabi.
Beliau akhirnya bersedia meminta hujan untuk mereka, dan tak lama kemudian hujan pun turun. Setelah peristiwa itu turunlah ayat, innakum ‘à’idùn. Ternyata begitu mendapat kemakmuran, mereka kembali berbuatdurhaka seperti sedia kala. Allah ‘azza wajalla lalu menurunkan firman- Nya, yauma nabíisyul-baísyatal-kubrà innà muntaqimùn, yakni menimpakan siksa kepada mereka berupa kekalahan pada Perang Badar.”
***
Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa pria yang menghadap Rasulullah tersebut adalah Abù Sufyàn, pembesar kaum Mudar. Bila demikian, terdapat kejanggalan dalam redaksi riwayat di atas; bagaimana mungkin Abù Sufyàn yang masih kafir mengakui Nabi sebagai utusan Allah dengan memanggilnya “yà rasùlallàh”. Ibnu Hajar mencoba menjawab kejanggalan ini.
Menurutnya, bisa jadi yang mengatakan kalimat “yà rasùlallàh” bukan Abù Sufyàn, melainkan Ka‘b bin Murrah, yang kisahnya termaktub dalam Musnad Ahmad. Alhasil, terbuka kemungkinan kedua orang ini bersama-sama menghadap Nabi untuk tujuan yang sama, yakni meminta hujan untuk kaum Quraisy yang tertimpa paceklik. Riwayat Ka‘b bin Murrah dalam Musnad Ahmad, lanjut Ibnu Hajar, memang mengesankan peristiwa tersebut terjadi di Madinah karena memakai redaksi “istansartallàh fa nasarak—engkau meminta pertolongan kepada Allah, lalu Dia pun menolongmu”.
Pertolongan Allah dalam bentuk kemenangan Rasulullah atas kaum kafir Mekah baru terjadi pasca-hijrah Nabi ke Madinah. Namun, andaikata Ka‘b bin Murrah masuk Islam sebelum hijrah, maka dari redaksi tersebut dapat dipahami bahwa pertolongan Allah itu datang dalam bentuk dikabulkannya doa Nabi agar Allah menimpakan paceklik kepada kaum Quraisy—dengan demikian, kisah Abù Sufyàn dan Ka‘b bin Murrah terjadi di Mekah. Lihat: Ibnu Hajar, Fath al-Bàrì, juz 2, hlm. 512.
Hadis ini mirip dengan hadis sahih Muslim 2798
Sumber Data Asbabun Nuzul Ad-Dukhan 44;10-16
Data ini berasal dari hadis sahih Bukhari 4821. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017
dan beberapa buku lainnya,-
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.