
Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul Al-Isra’ 17;110
Al-Isra’ 17;110
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا ١١٠
qulid‘ullâha awid‘ur-raḫmân, ayyam mâ tad‘û fa lahul-asmâ’ul-ḫusnâ, wa lâ taj-har bishalâtika wa lâ tukhâfit bihâ wabtaghi baina dzâlika sabîlâ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Serulah ‘Allah’ atau serulah ‘Ar-Raḥmān’! Nama mana saja yang kamu seru, (maka itu baik) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!”
Asbabun Nuzul Al-Isra’ 17;110
Ayat ini turun untuk membimbing Nabi supaya membaca Al-Qur’an dengan suara sedang; tidak terlalu lantang dan tidak pula terlampau lirih.
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى {وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا} قَالَ نَزَلَتْ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُخْتَفٍ بِمَكَّةَ، كَانَ إِذَا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ رَفَعَ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ فَإِذَا سَمِعَهُ الْمُشْرِكُونَ سَبُّوا الْقُرْآنَ وَمَنْ أَنْزَلَهُ، وَمَنْ جَاءَ بِهِ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم {وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ} أَىْ بِقِرَاءَتِكَ، فَيَسْمَعَ الْمُشْرِكُونَ، فَيَسُبُّوا الْقُرْآنَ، {وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا} عَنْ أَصْحَابِكَ فَلاَ تُسْمِعُهُمْ {وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً}.
Mengisahkan sebab turunnya ayat wa là tajhar bisalàtika walà tukhàfit bihà, Ibnu ‘Abbàs berkata, “Ayat ini turun ketika Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Mekah. Pada saat itu, tiap kali salat bersama para sahabat, beliau selalu membaca Al-Qur’an dengan suara lantang. Begitu mendengar bacaan Al-Qur’an, orang-orang musyrik mencemooh Al-Qur’an, Tuhan yang menurunkannya, dan orang yang menyampaikannya (yakni: Nabi Muhammad). Allah lalu berfirman, wa là tajhar bisalàtika; jangan lantangkan suaramu dalam membaca Al- Qur’an. Jangan sampai kaum musyrik mendengarnya supaya mereka tidak mencemoohnya, wa là tukhàfit bihà; jangan pula engkau membaca terlampau lirih sehingga para sahabat tidak dapat mendengar suaramu, wabtagi baina žàlika sabìlà; usahakanlah jalan tengah di antara keduanya.”
Hadis ini mirip dengan hadis sahih Muslim 446
Sumber Data Asbabun Nuzul Al-Isra’ 17;110
Data ini berasal dari hadis sahih Bukhari 4722. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017
dan beberapa buku lainnya,-
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.