Asbabun Nuzul At-Taubah 9;94 – Hadis Sahih Bukhari 4677

https://hasanah.info/category/kajian/rukun-iman/kitab-suci/al-quran/asbabun-nuzul/
https://hasanah.info/category/kajian/rukun-iman/kitab-suci/al-quran/asbabun-nuzul/

Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul At-Taubah 9;94.

At-Taubah 9;94

يَعْتَذِرُوْنَ اِلَيْكُمْ اِذَا رَجَعْتُمْ اِلَيْهِمْۗ قُلْ لَّا تَعْتَذِرُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّاَنَا اللّٰهُ مِنْ اَخْبَارِكُمْ وَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۝٩٤

ya‘tadzirûna ilaikum idzâ raja‘tum ilaihim, qul lâ ta‘tadzirû lan nu’mina lakum qad nabba’anallâhu min akhbârikum wa sayarallâhu ‘amalakum wa rasûluhû tsumma turaddûna ilâ ‘âlimil-ghaibi wasy-syahâdati fa yunabbi’ukum bimâ kuntum ta‘malûn

Mereka (orang-orang munafik yang tidak ikut berperang) akan membuat-buat alasan kepadamu ketika kamu telah pulang kepada mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Janganlah kamu membuat-buat alasan. Kami tidak percaya lagi kepadamu. Sungguh, Allah telah memberitahukan kepada kami sebagian berita (tentang) kamu. Allah akan melihat pekerjaanmu, (demikian pula) Rasul-Nya. Kemudian, kamu dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

Asbabun Nuzul At-Taubah 9;94

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik yang absen dari Perang Tabuk. Ketika Nabi dan pasukannya kembali ke Madinah, mereka mengungkapkan alasan dusta agar Nabi memaafkan dan mengampuni mereka. Berbeda dari mereka, Ka‘b bin Màlik dan dua temannya dengan jujur mengemukakan alasan mengapa mereka tidak ikut berperang bersama Nabi dan para sahabat lainnya.

حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي شُعَيْبٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَعْيَنَ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ رَاشِدٍ، أَنَّ الزُّهْرِيَّ، حَدَّثَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ سَمِعْتُ أَبِي كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ،، وَهْوَ أَحَدُ الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ تِيبَ عَلَيْهِمْ أَنَّهُ لَمْ يَتَخَلَّفْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ غَيْرَ غَزْوَتَيْنِ غَزْوَةِ الْعُسْرَةِ وَغَزْوَةِ بَدْرٍ‏.‏ قَالَ فَأَجْمَعْتُ صِدْقَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ضُحًى، وَكَانَ قَلَّمَا يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ سَافَرَهُ إِلاَّ ضُحًى وَكَانَ يَبْدَأُ بِالْمَسْجِدِ، فَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ، وَنَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ كَلاَمِي وَكَلاَمِ صَاحِبَىَّ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْ كَلاَمِ أَحَدٍ مِنَ الْمُتَخَلِّفِينَ غَيْرِنَا، فَاجْتَنَبَ النَّاسُ كَلاَمَنَا، فَلَبِثْتُ كَذَلِكَ حَتَّى طَالَ عَلَىَّ الأَمْرُ، وَمَا مِنْ شَىْءٍ أَهَمُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أَمُوتَ فَلاَ يُصَلِّي عَلَىَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَوْ يَمُوتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَكُونَ مِنَ النَّاسِ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَةِ، فَلاَ يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ مِنْهُمْ، وَلاَ يُصَلِّي عَلَىَّ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَوْبَتَنَا عَلَى نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ بَقِيَ الثُّلُثُ الآخِرُ مِنَ اللَّيْلِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ أُمِّ سَلَمَةَ، وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ مُحْسِنَةً فِي شَأْنِي مَعْنِيَّةً فِي أَمْرِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ يَا أُمَّ سَلَمَةَ تِيبَ عَلَى كَعْبٍ ‏”‏‏.‏ قَالَتْ أَفَلاَ أُرْسِلُ إِلَيْهِ فَأُبَشِّرَهُ قَالَ ‏”‏ إِذًا يَحْطِمَكُمُ النَّاسُ فَيَمْنَعُونَكُمُ النَّوْمَ سَائِرَ اللَّيْلَةِ ‏”‏‏.‏ حَتَّى إِذَا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْفَجْرِ آذَنَ بِتَوْبَةِ اللَّهِ عَلَيْنَا، وَكَانَ إِذَا اسْتَبْشَرَ اسْتَنَارَ وَجْهُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ قِطْعَةٌ مِنَ الْقَمَرِ، وَكُنَّا أَيُّهَا الثَّلاَثَةُ الَّذِينَ خُلِّفُوا عَنِ الأَمْرِ الَّذِي قُبِلَ مِنْ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ اعْتَذَرُوا حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ لَنَا التَّوْبَةَ، فَلَمَّا ذُكِرَ الَّذِينَ كَذَبُوا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمُتَخَلِّفِينَ، وَاعْتَذَرُوا بِالْبَاطِلِ، ذُكِرُوا بِشَرِّ مَا ذُكِرَ بِهِ أَحَدٌ قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ ‏{‏يَعْتَذِرُونَ إِلَيْكُمْ إِذَا رَجَعْتُمْ إِلَيْهِمْ قُلْ لاَ تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ وَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ‏}‏ الآيَةَ‏.‏

Ka‘b bin Màlik, satu dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah, bercerita bahwa ia tidak pernah absen mengikuti peperangan bersama Rasulullah selain pada dua peperangan, yaitu Perang ‘Usrah (Tabuk) dan Perang Badar.

Ia berkata, “Aku berencana mengungkapkan alasan ketidakhadiranku pada Perang Tabuk kepada Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam pada waktu Duha. Sudah menjadi tradisi beliau untuk datang dari suatu perjalanan pada waktu Duha.

Begitu datang, beliau langsung saja menuju  masjid untuk menunaikan salat dua rakaat. (Setelah aku mengungkapkan alasanku), beliau lalu melarang para sahabat untuk mengajakku dan dua orang kawanku berbicara. Di saat yang sama, beliau tidak melarang mereka untuk mengajak bicara orang-orang yang tidak ikut berperang selain kami. Orang-orang pun enggan berbicara dengan kami.

Kejadian itu berlangsung begitu lama. Selama itu, hanya ada satu hal yang membuatku sangat cemas, yaitu andaikata aku mati lalu Nabi sallallàhu ‘alaihi wasallam tidak sudi menyalatiku atau andaikata beliau wafat—dan aku masih dikucilkan oleh mereka seperti itu—lalu tidak ada seorang pun yang mau mengajakku bicara atau sekadar mengucapkan salam kepadaku.

Kemudian pada sepertiga malam terakhir Allah menurunkan kepada Nabi sallallàhu ‘alaihi wasallam ayat yang memberitakan diterimanya tobat kami. Ketika itu Rasulullah êallallàhu ‘alaihi wasallam bermalam di rumah Umm Salamah, istri beliau yang selalu menceritakan kebaikan-kebaikanku dan memberi perhatian kepadaku. Rasulullah êallallàhu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, ‘Wahai Ummu Salamah, Allah telah menerima tobat Ka‘b. Dengan penuh suka cita ia berkata, ‘Haruskah aku mengutus seseorang untuk mengabarkan berita gembira ini kepadanya?’ Beliau menjawab, ‘Jangan, nanti orang-orang akan melemparimu dengan batu dan membuatmu tidak dapat tidur sepanjang malam.’

Kemudian muncullah Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan salat Subuh. Usai salat beliau mengumumkan bahwa Allah telah menerima tobat kami. Seperti biasanya, apabila sedang bersuka cita, wajah beliau selalu tampak bersinar layaknya sepenggal bulan.

Pada firman itu kamilah yang dimaksud sebagai tiga orang yang ditangguhkan keputusannya (yakni: diterima tobatnya atau tidak), di saat  mereka yang tidak ikut berperang (dan berbohong kepada Rasulullah terkait alasan ketidakhadiran mereka) diterima alasannya.

Lalu, ketika mereka itu mendustai Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam, turunlah ayat yang menyebut mereka dengan sebutan terburuk yang pernah ditujukan kepada seseorang. Allah berfirman, ya‘tažirùna ilaikum ižà raja‘tum ilaihim qul là ta‘tažirù lan nu’mina lakum qad nabba’anallàhu min akhbàrikum wasayarallàhu ‘amalakum warasùluh.”

Sumber Data Asbabun Nuzul At-Taubah 9;94

Data ini berasal dari hadis sahih Bukhari 4677. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017

dan beberapa buku lainnya,-

Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top