Jiwa Para Syuhada; Hadis Sahih Muslim 1887

https://hasanah.info/category/kajian/rukun-iman/kitab-suci/al-quran/asbabun-nuzul/
https://hasanah.info/category/kajian/rukun-iman/kitab-suci/al-quran/asbabun-nuzul/

Dalam sejarah perjuangan bangsa dan agama, jiwa para syuhada selalu melekat sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan ketulusan hati. Mereka adalah pahlawan yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan nilai-nilai luhur dan keadilan.

Jiwa para syuhada adalah kekuatan batin yang mendorong mereka untuk tetap teguh dalam menghadapi bahaya dan penderitaan demi mencapai tujuan mulia. Mereka tidak takut mati karena keyakinan kuat terhadap keberadaan kehidupan setelah mati dan pahala yang dijanjikan. Jiwa ini mencerminkan keimanan, keberanian, ketabahan, dan pengorbanan tanpa pamrih.

Allah merekam dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran 3;169 tentang jiwa mereka yang selalu hidup.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ ۝١٦٩

wa lâ taḫsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḫyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.*
* Maksudnya adalah hidup di alam yang lain, bukan di alam dunia. Mereka mendapatkan berbagai kenikmatan di sisi Allah Swt. Hanya Allahlah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup di alam lain itu.

Dimana Jiwa Para Syuhada?

Para sahabat pernah bertanya apa maksud dari Al-Qur’an surah Ali-Imran 3;169 kemudian Nabi menjawab:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ كِلاَهُمَا عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ، ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، وَعِيسَى بْنُ يُونُسَ، جَمِيعًا عَنِ الأَعْمَشِ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، – وَاللَّفْظُ لَهُ – حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ سَأَلْنَا عَبْدَ اللَّهِ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ، ‏{‏ وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ‏}‏ قَالَ أَمَا إِنَّا قَدْ سَأَلْنَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ ‏”‏ أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمُ اطِّلاَعَةً فَقَالَ هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا قَالُوا أَىَّ شَىْءٍ نَشْتَهِي وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوا قَالُوا يَا رَبِّ نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِي أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى ‏.‏ فَلَمَّا رَأَى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ تُرِكُوا ‏”‏ ‏.‏

Telah diriwayatkan dari Masruq yang berkata: Kami bertanya kepada ‘Abdullah tentang ayat Al-Qur’an: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup, mendapatkan rezeki di sisi Tuhan mereka..” (Ali Imran: 169). Dia berkata: Kami telah bertanya tentang makna ayat tersebut (dari Nabi) yang bersabda: Jiwa para syuhada hidup di dalam tubuh burung hijau yang memiliki sarang di lampu gantung yang tergantung dari Arsy Yang Maha Kuasa. Mereka memakan buah-buahan surga dari mana saja yang mereka suka dan kemudian bersarang di lampu-lampu gantung ini. Ketika Tuhan mereka memandang mereka dan berkata: Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab: Apa lagi yang kami inginkan? Kami memakan buah-buahan surga dari mana saja yang kami suka. Tuhan mereka mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka tiga kali. Ketika mereka melihat bahwa mereka akan terus ditanya dan tidak dibiarkan (tanpa menjawab), mereka berkata: Ya Tuhan, kami ingin agar Engkau mengembalikan jiwa kami ke dalam tubuh kami agar kami dapat terbunuh di jalan-Mu sekali lagi. Ketika Dia (Allah) melihat bahwa mereka tidak memiliki kebutuhan, mereka dibiarkan (dalam kebahagiaan mereka di surga).

Sumber Data Jiwa Para Syuhada

Data ini berasal dari hadis sahih Muslim 1887. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017

dan beberapa buku lainnya,-

Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top