
Beberapa ayat dalam al-Qur’an memiliki momen tertentu saat turun sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam. Berikut adalah Asbabun Nuzul Al-Ma’idah 5;106-107.
Al-Ma’idah 5;106-107
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِيْنَ الْوَصِيَّةِ اثْنٰنِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ اَوْ اٰخَرٰنِ مِنْ غَيْرِكُمْ اِنْ اَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَاَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةُ الْمَوْتِۗ تَحْبِسُوْنَهُمَا مِنْۢ بَعْدِ الصَّلٰوةِ فَيُقْسِمٰنِ بِاللّٰهِ اِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِيْ بِهٖ ثَمَنًا وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللّٰهِ اِنَّآ اِذًا لَّمِنَ الْاٰثِمِيْنَ ١٠٦
yâ ayyuhalladzîna âmanû syahâdatu bainikum idzâ ḫadlara aḫadakumul-mautu ḫînal-washiyyatitsnâni dzawâ ‘adlim mingkum au âkharâni min ghairikum in antum dlarabtum fil-ardli fa ashâbatkum mushîbatul-maût, taḫbisûnahumâ mim ba‘dish-shalâti fa yuqsimâni billâhi inirtabtum lâ nasytarî bihî tsamanaw walau kâna dzâ qurbâ wa lâ naktumu syahâdatallâhi innâ idzal laminal-âtsimîn
Wahai orang-orang yang beriman, persaksian di antara kamu, apabila telah datang kepada salah seorang (di antara) kamu (tanda-tanda) kematian, sedangkan dia akan berwasiat, adalah dua orang yang adil di antara kamu atau dua orang selain kamu (nonmuslim) jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa musibah kematian. Jika kamu ragu (akan kesaksiannya), tahanlah kedua saksi itu setelah salat agar bersumpah dengan nama Allah, “Kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini walaupun dia karib kerabat dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah. Sesungguhnya jika demikian, tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.”
فَاِنْ عُثِرَ عَلٰٓى اَنَّهُمَا اسْتَحَقَّآ اِثْمًا فَاٰخَرٰنِ يَقُوْمٰنِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِيْنَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْاَوْلَيٰنِ فَيُقْسِمٰنِ بِاللّٰهِ لَشَهَادَتُنَآ اَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَآۖ اِنَّآ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَ ١٠٧
fa in ‘utsira ‘alâ annahumastaḫaqqâ itsman fa âkharâni yaqûmâni maqâmahumâ minalladzînastaḫaqqa ‘alaihimul-aulayâni fa yuqsimâni billâhi lasyahâdatunâ aḫaqqu min syahâdatihimâ wa ma‘tadainâ innâ idzal laminadh-dhâlimîn
Jika terbukti kedua saksi itu berbuat dosa,* maka dua orang yang lain menggantikan kedudukannya, yaitu di antara ahli waris yang berhak dan lebih dekat kepada orang yang meninggal, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, “Sungguh, kesaksian kami lebih layak diterima daripada kesaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas. Sesungguhnya jika (berbuat) demikian, tentu kami termasuk orang-orang yang zalim.”
* Berbuat dosa di sini maksudnya adalah melakukan kecurangan dalam persaksiannya yang diketahui setelah dia bersumpah.
Asbabun Nuzul Al-Ma’idah 5;106-107
Ayat ini turun berkenaan dengan sengketa antara ahli waris seorang sahabat dari Bani Sahm yang meninggal, dengan Tamìm ad-Dàriy dan ‘Adiy
bin Baddà’. Mereka menuduh keduanya telah mengambil gelas perak berlapis emas milik saudara mereka dan menjualnya kepada orang lain.
وَقَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْقَاسِمِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَهْمٍ مَعَ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ وَعَدِيِّ بْنِ بَدَّاءٍ فَمَاتَ السَّهْمِيُّ بِأَرْضٍ لَيْسَ بِهَا مُسْلِمٌ، فَلَمَّا قَدِمَا بِتَرِكَتِهِ فَقَدُوا جَامًا مِنْ فِضَّةٍ مُخَوَّصًا مِنْ ذَهَبٍ، فَأَحْلَفَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ وُجِدَ الْجَامُ بِمَكَّةَ فَقَالُوا ابْتَعْنَاهُ مِنْ تَمِيمٍ وَعَدِيٍّ. فَقَامَ رَجُلاَنِ مِنْ أَوْلِيَائِهِ، فَحَلَفَا لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا، وَإِنَّ الْجَامَ لِصَاحِبِهِمْ. قَالَ وَفِيهِمْ نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ}
Ibnu ‘Abbàs raýiyallàhu ‘anhumà bercerita, “Seorang pria (muslim) dari Bani Sahm (dalam sebuah riwayat pria itu bernama Buzail) pergi berdagang
bersama Tamìm ad-Dàriy dan ‘Adiy bin Baddà’ (ketika itu keduanya beragama Nasrani). Di tengah perjalanan Buzail meninggal di suatu daerah
yang tidak dijumpai seorang muslim pun di sana. Ketika keduanya kembali ke Madinah dengan membawa harta peninggalan pria itu, mereka
kehilangan gelas perak berlapis emas miliknya. Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam kemudian mengambil sumpah mereka. Gelas itu akhirnya ditemukan di Mekah. Orang-orang yang menguasai gelas itu berkata, ‘Kami membelinya dari Tamìm dan ‘Adiy.’ Dua orang wali (ahli waris) pria dari
Bani Sahm itu berdiri dan bersumpah di hadapan Nabi, ‘Kesaksian kami lebih jujur daripada kesaksian Tamìm dan ‘Adiy.’ Mereka juga bersumpah
bahwa gelas itu benar milik saudara mereka. Berkaitan dengan mereka inilah turun firman Allah, ya ayyuhal-lažìna àmanù syahàdatu bainikum ižà
ëaýara aëadakumul-maut.
Sumber Data Asbabun Nuzul Al-Ma’idah 5;106-107
Data ini berasal dari hadis sahih Bukhari 2780. yang ada dalam buku ASBÀBUN-NUZÙL: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur’an, Muchlis M. Hanafi (ed.), Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta, 2017
dan beberapa buku lainnya,-
Jika Anda ingin mendapatkan inspirasi spiritual lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi website hasanah.info. Bersama-sama, kita bisa menjalani hidup yang penuh berkah dan hasanah fiddunya wal akhirah
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.